Jumat, 27 Maret 2020

ANEMIA PENYEBAB PENYAKIT KRONIS

MAKALAH HEMATOLOGI III
ANEMIA YANG DISEBABKAN OLEH PENYAKIT KRONIS

IMG-20190326-WA0004

NAMA            : NURAIN DIAN YAPONO
NIM                : 18 3145 353 101
KELAS           : 2018 C



PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020/2021





KATA PENGANTAR
Assalamualaiukum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Kultur Anemia “Penyebab Penyakit Kronis” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Hematologi III. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Saya menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Wassalamualaikum Warrahmatulahi Wabarakatu


                                                                                         Makassar, 27 Maret 2020
                                                                                       Penyusun



                                                                                                Nurain Dian Yapono










BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Anemia (Bahasa Yunani) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah  hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh (Yunita, 2015).
Anemia adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan kulit dan membrane mucosa pucat, dan pada test laboratorium didapatkan Hitung Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Hm), dan eritrosit kurang dari abnormal. Rendahnya kadar hemoglobin itu mempengaruhi kemampuan darah menghantarkan oksigen yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh yang optimal (Yunita, 2015).
Anemia penyakit kronis merupakan bentuk anemia derajat ringan yang terjadi akibat infeksi kronis, peradangan, trauma dan penyakit neoplastic yang telah berlangsung 1-2 bulan dan tidak disertai penyakit hati, ginjal, dan endokri. Jenis anemia ini ditandai dengan kelainan metabolism besi, sehingga terjadi hipofenemia dan penumpukan besi di makrofag (Adang dan Osman, 2005).
Secara garis besar pathogenesis anemia penyakit kronis dititikberatkan pada tiga abnormalitas utama yaitu ketahan hidup eritrosit yang memendek akibat teradinya lisis eritrosit lebih dini, respon sumsum tulang karena respon eritropoelin yang terganggu atau menurun, dan gangguan metabolism berupa gangguan reutlisasi besi (Adang dan Osman, 2005).
Anemia penyakit kronis sering bersamaan dengan anemia defisiensi besi keduanya memberikan gambaran penurunan besi serum oleh karena itu penularan parameter besi yang lain diperlukan untuk membedakannya. Pemeriksaan rutin yang dilakukan untuk menentukan defisiensi besi akan menemui kesulitan bila berkaitan dengan anemia penyakit kronis. Pemeriksaan khusus seperti pengecatan sumsum tulang untuk menentukan cadangan besi dengan pewarnaan Prussian Blue bersifat invasive, oleh karena itu diperlukan metode untuk menentukan parameter besi lain yang praktis dengan nilai diagnostic yang tinggi guna membedakannya (Adang dan Osman, 2005).
B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mampu memahami secara umum tentang Anemia Penyebab Penyakit Kronis.
2.      Tujuan Khusus
a.       Memahami hal-hal tentang Definisi Anemia Penyakit Kronik
b.      Memahami hal-hal tentang  Klasifikasi Etiologi Anemia Penyakit Kronik
c.       Memahami hal-hal tentang  Klasifikasi Epidemiologi Anemia Penyakit Kronik
d.      Memahami hal-hal tentang Patofisologi tanda dan gejala Anemia Penyakit Kronik
e.       Memahami hal-hal tentang Penatalaksanaan atau penanganan Anemia Penyakit Kronik

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi 
Anemia adalah penurunan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen yang biasanya diakibatkan oleh penurunan massa sel darah merah (SDM) total dalam sirkulasi sampai dibawah normal. Hal ini dapat dilihat darri konsentrasi hematokrit (Ht) dan Hemoglobin (Hb) yang  rendah. Dengan demikian, anemia bukanlah suatu diagnosis melainkan suatu cerminan perubahan patofisiologik mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan konfirmasi laboratorium .
Anemia disebabkan oleh factor gizi dan non gizi, factor gizi terkait dengan difesiensi protein, vitamin, dan mineral. Sedangkan factor non gizi terkait penyakit infeksi. Protein berperan dalam proses pembentukan hemoglobin, ketika tubuh kekurangan protein dalam jangka waktu lama pembentukan sel darah merah dapat terganggu dan ini yang menyebabkan timbul gejala anemia, sedangkan vitamin yang terkait dengan defisiensi zat besi adalah vitamin C yang dapat membantu mempercepat penyerapan besi di dalam tubuh serta berperan dalam memindahkan besi ke dalam darah, mobilisasi simpanan besi terutama hemosiderin dalam limpa (Herta dkk, 2015).
Anemia terjadi akibat perdarahan, peningkatan destruksi ataupun berkurangnya produksi SDM. Klasifikasi anemia didasarkan oleh morfologi SDM dan juga mekanisme terbentuknya.
Anemia yang terjadi pada penyakit kronis, tidak semua dapat digolongkan sebagai anemia akibat penyakit kronis, walaupun beberapa penyakit kronis seringkali disertai dengan anemia. Anemia pada penyakit kronis meruapakn anemia yang dijumpai pada keadaan penyakit kronis tertentu, yang khas ditandai dengan adanya gangguan metabolism besi sehingga dalam pemeriksaan darah tampak hipoferemia dan menyebabkan berkurangnya penyediaan besi yang dibutuhkan untuk sintesis hemoglobin tetapi cadangan besi sumsum tulang masih cukup. Anemia penyakit kronis  memiliki gambaran klinis sebagai berikut:
a.       Indeks dan morfologi eritrosit normositik, normokronik atau hipokrom ringan dengan MCV jarang <75 fl.
b.      Anemia bersifat ringan atau tidak progresif, kadar haemoglobin pada pasien jarang ditemukan ≤ 9,0 g/dl, namun perlu dicatat bahwa beratnya anemia tergantung dari penyakit yang mendasari terjadinya anemia tersebut.
c.       Kadar TBC yang menurun dengan kadar sTfR yang normal.
d.      Kadar ferritin serum yang normal maupun adanya peningkatan.
e.       Kadar besi cadangan di sumsum tulang masih normal, sedangkan kadar besi dalam eritroblas berkurang.
B.  Etiologi
Ada tiga penyebab utama Anemia Penyakit Kronis yaitu: infeksi, inflamasi, dan keganasan. Beberapa ahli tidak memasukkan anemia yang terjadi pada pasien penyakit ginjal, kelainan endokrin, dan penyakit hati kedalam Anemia Penyakit Kronis, karena mekanisme timbulnya anemia berbeda. Anemia Penyakit Kronis merupakan anemia yang dikendalikan oleh mekanisme imun. Sitokin-sitokin yang berperan di antaranya adalah Interleuki-1, TnF-α, TGF-β yang berkaitan dengan penyakit kronis (Askandar, 2015).
Adapun menurut Askandar pada tahun2015, Penyakit kronis atau keadaan klinik yang umumnya terjadi pada Anemia Penyakit Kronis yaitu:
1.    Infeksi kronis osteomyelitis, Infeksi paru: Pneumonia, Abses, Emfisema, tuberculosis, Subakut bacterial endocarditis, Penyakit radang pelvis, Infeksi saluran kemih kronis, Meningitis, Infeksi HIV, Infeksi jamur dan Mikrobakterial.
2.    Penyakit inflamasi kronis non infeksi (SLE, Arthritis rematoid, Demam rematik, Trauma berat, Trauma panas, Abses steril, Vaskulitis).
3.    Keganasan (Penyakit Hodgkin, Limfosarkoma, Karsinoma, Leukimia, Multiple myeloma dan lain-lain).
C.  Epidemiologi
Anemia pada penyakit kronik merupakan jenis anemia hipokronik mikrositer yang apling sering nomor dua setelah anemia defisiensi besi, jadi anemia pada penyakit kronik tergolong anemia yang cukup sering menyebabkan adalah cronic kidney disease (CKD). Human Immunodeficiensy Virus (HIV), Inflammatory Bowel Disease (IBD), Rhematoid Arthritis (RA), dan congestive heart failure.
Dilaporkan pada suatu studi bahwa telah ditemukan prevalensi yang cukup tinggi, yaitu 77% laki-laki tua dan 68% perempuan tua dengan kanker menderita anemia. Studi lain menunjukan anemia terjadi pada 41% pasien tumor solid. Di rumah sakit Sanglah Denpasar.
D.  Patofisiologi dan Gejala Klinis
Patofisologi anemia penyakit kronis adalah sangat kompleks, akan tetapi dapat diringkas meliputi tiga hal penting yaitu: terjadi peningkatan kadar hepsidin, kadar eritropetin yang rendah atau hiporesponsif terhadap eritropoetin dan supresi eritropoetin di sumsum tulang yang diikuti dengan penurunan survival sel darah merah (Dwi, 2016)
Diawali dengan adanya invasi mikroorganisme, adanya sel malignan atau disergulasi autoimun yang kemudian mengaktivasi sel T (CD3+) dan monosit. Sel-sel ini akan menginduksi mekanisme imun efektpr dan terjadi produksi sitokin seperti interferon-γ (dari sel T) dan tumor necrosis factor-α (TNF-α), interleukin-1, interleukin-6, serta interleukin-10 (dari monosit atau makrofag). Lipopolisakarida dan interleukin-6 menstimulasi ekspresi hepatic protein fase akut hepsidin yang akan menghambat absorpsi besi di duodenum. Interferon-γ, lipopolisakarida atau keduanya akan meningkatkan ekspresi dari divalent metal transporter-1 (DMT-1) yang terdapat pada makrofag kemudian akan menstimulasi uptake besi (Fe2+).
Sitokin anti inflamasi interleukin-10 akan meningkatkan ekspresi transferin dan meningkatkan uptake besi ke dalam monosit. TNF-α menginduksi penghancuran membran eritrosit dan menstimulasi proses fagositosis oleh makrofag dan degradasi eritrosit tua dalam rangka daur ulang besi. Interferon-γ dan lipopolisakarida menurunkan ekspresi transforter feroportin-1 besi dari dalam makrofag, oleh karena itu terjadi hambatan pengeluaran besi dari dalam makrofag. Proses ini juga dipengaruhi oleh adanya hepsidin. Pada waktu yang bersamaan TNF-α, interleukin-1, interleukin-6 dan interleukin-10 menginduksi ekspresi feritin kemudian menstimulasi simpanan serta terjadi retensi besi dalam karofag. Akibat semua proses tersebut akan mengakibatkan menurunya konsentrasi besi dalam sirkulasi sehingga kekurangan besi untuk proses eritropoesis (Dwi, 2016).
Gambaran klinis pada Anemia Penyakit Kronis Derajat pada anemia penyakit kronis biasanya ringan dengan kadar hematokrit (Hct) 30%- 40%. Berat ringanannya anemia sesuai dengan aktifitas penyakit yang mendasari, dan pada keganasan tergantung dari stadium atau luasnya infiltrasi kesekitarnya.
E.  Penatalaksanaan
Terapi utama pada anemia penyakit kronis adalah dengan mengobati penyakit dasarnya. Terdapat juga beberapa pilihan untuk menangani anemia pada penyakit kronis, diantaranya yaitu:
a.    Transfusi
  Transfusi merupakan pilihan pada kasus-kasus yang disertai dengan gangguan hemodinamik. Beberapa literature menyebutkan bahwa pasien anemia pada penyakit kronis yang disertai infark miokard, transfusi dapat mengurangi resiko kematian secara bermakna. Tidak ada batasan yang pasti pemberian transfuse harus dilakukan pada kadar hemoglobin berapa, namun sebaiknya kadar hemoglobin pada pasien dipertahankan pada 10-11 gr/dL.
b.    Eritropoietin
Selain untuk menhgindarkan pasien dari transfusi beserta efek sampingnya, pemberian eritropoietin juga mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:
·      Mempunyai efek anti inflamasi dengan cara menekan produksi dari TNF-α dan interferon-γ.
·      Pemberian eritropoetin juga akan menambah proliferasi dari sel-sel kanker ginjal serta meningkatkan rekurensi pada kanker kepala dan leher.
Saat ini telah terdapat tiga jenis eritropoietin yakni eritropoietin alfa, eritropoetin beta dan darbopoietin. Masing-masing eritropoietin ini berada struktur kimiawi, afinitas, terhadap reseptor serta waktu paruhnya sehingga memungkinkan untuk memilih mana yang lebih tepat dalam menangani suatu kasus.




































BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
Anemia akibat penyakit kronik ditandai dengan gambaran darah tepi hipokrom mikrositer atau bias juga normositer dan biasanya  tidak terlihat diakibatkan karena ditutupi oleh penyakit dasarnya. Anemia jenis ini merupakan anemia yang paling sering nomor dua setelah anemia defisiensi besi. Sebagai besar penyebar anemia pada penyakit kronis adalah akibat adanya sitokin yang menghambat produksi eritropoietin, menghambat sintesis sel darah merah, dan meningkatkan produksi hepeidin.
B.  Saran
Bagi pembaca dan masyarakat sebaiknya harus menjaga kesehatan lingkungan dan makanan serta pola makan agar memenuhi kecukupan akan Fe pada tubuh kita sehingga kita terhindar dari penyakit terlebih anemia yang disebabkan karena kurangnya zat besi untuk memproduksi darah sebagai dampak penyakit kronis.




















DAFTAR PUSTAKA
Dwi, Yunita. 2015.  Anemia. Samarinda: Akper Kaltim.

Fahri et al. 2008. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika.

I Gede Andre, 2016. Anemia Karena Penyakit Kronis.FKUM NTB.

Mansjoer, A dkk. 1999. Kapita Selekta kedokteran. Jakarta: Media Aescualeus.

Masthalina, Herta dkk. 2015. Pola Konsumsi (Faktor Inhibitor dan Enhancer Fe)   Terhadap Status Anemia Remaja Putri. Semarang: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Muhammad A dan Sianipar O. 2005. Penentuan Defisiensi Besi Anemia Penyakit Kronis Menggunakan Peran Indeks sTRfR-F. Indonesia: Journal Of Clinical Pathology and Medical Laboratory.

Riyanti, et al. 2008. Pengenalan dan Perawatan Kesehatan. Bandung: Jurnal Kedokteran.

Sudoyo, AW dkk. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Indonesia: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Tjokroprawiro, Askandar. 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed.2.Surabaya: Airlangga University Press.
Utama, Dwi L. 2016. Anemia Of Chronis Disease. Denpasar: Sanur Paradise

Tidak ada komentar:

Posting Komentar