MAKALAH HEMATOLOGI
III
ANEMIA YANG DISEBABKAN OLEH PENYAKIT KRONIS

NAMA :
NURAIN DIAN YAPONO
NIM : 18 3145 353 101
KELAS : 2018
C
PROGRAM
STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGAREZKY
MAKASSAR
2020/2021
KATA PENGANTAR
Assalamualaiukum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul Kultur Anemia “Penyebab Penyakit Kronis” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Hematologi III. Selain itu,
makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan
juga bagi penulis.
Saya menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami
nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Wassalamualaikum
Warrahmatulahi Wabarakatu
Makassar,
27 Maret 2020
Penyusun
Nurain
Dian Yapono
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anemia
(Bahasa Yunani) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam
sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin
yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya
ke seluruh bagian tubuh (Yunita, 2015).
Anemia
adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan kulit dan membrane mucosa pucat,
dan pada test laboratorium didapatkan Hitung Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Hm),
dan eritrosit kurang dari abnormal. Rendahnya kadar hemoglobin itu mempengaruhi
kemampuan darah menghantarkan oksigen yang dibutuhkan untuk metabolisme tubuh
yang optimal (Yunita, 2015).
Anemia
penyakit kronis merupakan bentuk anemia derajat ringan yang terjadi akibat
infeksi kronis, peradangan, trauma dan penyakit neoplastic yang telah
berlangsung 1-2 bulan dan tidak disertai penyakit hati, ginjal, dan endokri. Jenis anemia ini
ditandai dengan kelainan metabolism besi, sehingga terjadi hipofenemia dan
penumpukan besi di makrofag (Adang dan Osman, 2005).
Secara garis besar pathogenesis anemia penyakit kronis dititikberatkan
pada tiga abnormalitas utama yaitu ketahan hidup eritrosit yang memendek akibat
teradinya lisis eritrosit lebih dini, respon sumsum tulang karena respon
eritropoelin yang terganggu atau menurun, dan gangguan metabolism berupa gangguan
reutlisasi besi (Adang dan Osman, 2005).
Anemia penyakit kronis sering bersamaan dengan anemia defisiensi besi
keduanya memberikan gambaran penurunan besi serum oleh karena itu penularan
parameter besi yang lain diperlukan untuk membedakannya. Pemeriksaan rutin yang
dilakukan untuk menentukan defisiensi besi akan menemui kesulitan bila
berkaitan dengan anemia penyakit kronis. Pemeriksaan khusus seperti pengecatan
sumsum tulang untuk menentukan cadangan besi dengan pewarnaan Prussian Blue bersifat invasive, oleh
karena itu diperlukan metode untuk menentukan parameter besi lain yang praktis
dengan nilai diagnostic yang tinggi guna membedakannya (Adang dan Osman, 2005).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu memahami secara umum
tentang Anemia Penyebab Penyakit Kronis.
2. Tujuan Khusus
a.
Memahami hal-hal tentang Definisi Anemia Penyakit Kronik
b.
Memahami hal-hal tentang
Klasifikasi Etiologi Anemia Penyakit Kronik
c.
Memahami hal-hal tentang
Klasifikasi Epidemiologi Anemia Penyakit Kronik
d. Memahami hal-hal
tentang Patofisologi tanda dan gejala Anemia Penyakit Kronik
e. Memahami hal-hal
tentang Penatalaksanaan atau penanganan Anemia Penyakit Kronik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Anemia
adalah penurunan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen yang biasanya
diakibatkan oleh penurunan massa sel darah merah (SDM) total dalam sirkulasi
sampai dibawah normal. Hal ini dapat dilihat darri konsentrasi hematokrit (Ht)
dan Hemoglobin (Hb) yang rendah. Dengan
demikian, anemia bukanlah suatu diagnosis melainkan suatu cerminan perubahan
patofisiologik mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama,
pemeriksaan fisik dan konfirmasi laboratorium .
Anemia disebabkan oleh factor gizi dan non gizi, factor gizi terkait
dengan difesiensi protein, vitamin, dan mineral. Sedangkan factor non gizi
terkait penyakit infeksi. Protein berperan dalam proses pembentukan hemoglobin, ketika tubuh kekurangan
protein dalam jangka waktu lama pembentukan sel darah merah dapat terganggu dan
ini yang menyebabkan timbul gejala anemia, sedangkan vitamin yang terkait dengan
defisiensi zat besi adalah vitamin C yang dapat membantu mempercepat penyerapan
besi di dalam tubuh serta berperan dalam memindahkan besi ke dalam darah,
mobilisasi simpanan besi terutama hemosiderin dalam limpa (Herta dkk, 2015).
Anemia terjadi akibat perdarahan, peningkatan destruksi ataupun
berkurangnya produksi SDM. Klasifikasi anemia didasarkan oleh morfologi SDM dan
juga mekanisme terbentuknya.
Anemia yang terjadi pada penyakit kronis, tidak semua dapat digolongkan
sebagai anemia akibat penyakit kronis, walaupun beberapa penyakit kronis
seringkali disertai dengan anemia. Anemia pada penyakit kronis meruapakn anemia
yang dijumpai pada keadaan penyakit kronis tertentu, yang khas ditandai dengan
adanya gangguan metabolism besi sehingga dalam pemeriksaan darah tampak
hipoferemia dan menyebabkan berkurangnya penyediaan besi yang dibutuhkan untuk
sintesis hemoglobin tetapi cadangan besi sumsum tulang masih cukup. Anemia penyakit kronis memiliki gambaran klinis sebagai berikut:
a.
Indeks dan morfologi eritrosit normositik, normokronik atau hipokrom
ringan dengan MCV jarang <75 fl.
b.
Anemia bersifat ringan atau tidak progresif, kadar haemoglobin pada
pasien jarang ditemukan ≤ 9,0 g/dl, namun perlu dicatat bahwa beratnya anemia
tergantung dari penyakit yang mendasari terjadinya anemia tersebut.
c.
Kadar TBC yang menurun dengan kadar sTfR yang normal.
d.
Kadar ferritin serum yang normal maupun adanya peningkatan.
e.
Kadar besi cadangan di sumsum tulang masih normal, sedangkan kadar besi
dalam eritroblas berkurang.
B. Etiologi
Ada tiga penyebab utama
Anemia Penyakit Kronis yaitu: infeksi, inflamasi, dan keganasan. Beberapa ahli
tidak memasukkan anemia yang terjadi pada pasien penyakit ginjal, kelainan
endokrin, dan penyakit hati kedalam Anemia Penyakit Kronis, karena mekanisme
timbulnya anemia berbeda. Anemia Penyakit Kronis merupakan anemia yang
dikendalikan oleh mekanisme imun. Sitokin-sitokin yang berperan di antaranya
adalah Interleuki-1, TnF-α, TGF-β yang berkaitan
dengan penyakit kronis (Askandar, 2015).
Adapun menurut Askandar pada tahun2015, Penyakit
kronis atau keadaan klinik yang umumnya terjadi pada Anemia Penyakit Kronis
yaitu:
1.
Infeksi
kronis osteomyelitis, Infeksi paru: Pneumonia, Abses, Emfisema, tuberculosis, Subakut
bacterial endocarditis, Penyakit radang pelvis, Infeksi saluran kemih kronis,
Meningitis, Infeksi HIV, Infeksi jamur dan Mikrobakterial.
2.
Penyakit inflamasi kronis non infeksi (SLE, Arthritis rematoid, Demam
rematik, Trauma berat, Trauma panas, Abses steril, Vaskulitis).
3. Keganasan
(Penyakit Hodgkin, Limfosarkoma, Karsinoma, Leukimia, Multiple myeloma dan
lain-lain).
C. Epidemiologi
Anemia
pada penyakit kronik merupakan jenis anemia hipokronik mikrositer yang apling
sering nomor dua setelah anemia defisiensi besi, jadi anemia pada penyakit
kronik tergolong anemia yang cukup sering menyebabkan adalah cronic kidney disease (CKD). Human
Immunodeficiensy Virus (HIV), Inflammatory
Bowel Disease (IBD), Rhematoid
Arthritis (RA), dan congestive heart
failure.
Dilaporkan
pada suatu studi bahwa telah ditemukan prevalensi yang cukup tinggi, yaitu 77%
laki-laki tua dan 68% perempuan tua dengan kanker menderita anemia. Studi lain
menunjukan anemia terjadi pada 41% pasien tumor solid. Di rumah sakit Sanglah Denpasar.
D. Patofisiologi dan Gejala
Klinis
Patofisologi anemia penyakit kronis adalah sangat
kompleks, akan tetapi dapat diringkas meliputi tiga hal penting yaitu: terjadi
peningkatan kadar hepsidin, kadar eritropetin yang rendah atau hiporesponsif
terhadap eritropoetin dan supresi eritropoetin di sumsum tulang yang diikuti
dengan penurunan survival sel darah
merah (Dwi, 2016)
Diawali dengan adanya invasi mikroorganisme, adanya
sel malignan atau disergulasi autoimun yang kemudian mengaktivasi sel T (CD3+)
dan monosit. Sel-sel ini akan menginduksi mekanisme imun efektpr dan terjadi
produksi sitokin seperti interferon-γ (dari sel T) dan tumor necrosis factor-α (TNF-α), interleukin-1, interleukin-6,
serta interleukin-10 (dari monosit atau makrofag). Lipopolisakarida dan
interleukin-6 menstimulasi ekspresi hepatic protein fase akut hepsidin yang
akan menghambat absorpsi besi di duodenum. Interferon-γ, lipopolisakarida atau
keduanya akan meningkatkan ekspresi dari divalent
metal transporter-1 (DMT-1) yang terdapat pada makrofag kemudian akan
menstimulasi uptake besi (Fe2+).
Sitokin anti inflamasi interleukin-10 akan
meningkatkan ekspresi transferin dan meningkatkan uptake besi ke dalam monosit.
TNF-α menginduksi penghancuran
membran eritrosit dan menstimulasi proses fagositosis oleh makrofag dan
degradasi eritrosit tua dalam rangka daur ulang besi. Interferon-γ dan
lipopolisakarida menurunkan ekspresi transforter
feroportin-1 besi dari dalam makrofag, oleh karena itu terjadi hambatan
pengeluaran besi dari dalam makrofag. Proses ini juga dipengaruhi oleh adanya
hepsidin. Pada waktu yang bersamaan TNF-α,
interleukin-1, interleukin-6 dan interleukin-10 menginduksi ekspresi feritin
kemudian menstimulasi simpanan serta terjadi retensi besi dalam karofag. Akibat
semua proses tersebut akan mengakibatkan menurunya konsentrasi besi dalam
sirkulasi sehingga kekurangan besi untuk proses eritropoesis (Dwi, 2016).
Gambaran klinis pada Anemia
Penyakit Kronis Derajat pada anemia penyakit kronis biasanya ringan dengan
kadar hematokrit (Hct) 30%- 40%. Berat ringanannya anemia sesuai dengan
aktifitas penyakit yang mendasari, dan pada keganasan tergantung dari stadium
atau luasnya infiltrasi kesekitarnya.
E. Penatalaksanaan
Terapi utama pada anemia
penyakit kronis adalah dengan mengobati penyakit dasarnya. Terdapat juga
beberapa pilihan untuk menangani anemia pada penyakit kronis, diantaranya
yaitu:
a.
Transfusi
Transfusi
merupakan pilihan pada kasus-kasus yang disertai dengan gangguan hemodinamik.
Beberapa literature menyebutkan bahwa pasien anemia pada penyakit kronis yang
disertai infark miokard, transfusi dapat mengurangi resiko kematian secara bermakna.
Tidak ada batasan yang pasti pemberian transfuse harus dilakukan pada kadar
hemoglobin berapa, namun sebaiknya kadar hemoglobin pada pasien dipertahankan pada
10-11 gr/dL.
b.
Eritropoietin
Selain untuk menhgindarkan pasien dari transfusi
beserta efek sampingnya, pemberian eritropoietin juga mempunyai beberapa
keuntungan, yaitu:
·
Mempunyai efek anti inflamasi dengan cara menekan
produksi dari TNF-α dan interferon-γ.
·
Pemberian
eritropoetin juga akan menambah proliferasi dari sel-sel kanker ginjal serta
meningkatkan rekurensi pada kanker kepala dan leher.
Saat ini telah
terdapat tiga jenis eritropoietin yakni eritropoietin alfa, eritropoetin beta
dan darbopoietin. Masing-masing eritropoietin ini berada struktur kimiawi,
afinitas, terhadap reseptor serta waktu paruhnya sehingga memungkinkan untuk
memilih mana yang lebih tepat dalam menangani suatu kasus.
BAB III
KESIMPULAN DAN
SARAN
A. Kesimpulan
Anemia akibat penyakit kronik ditandai dengan gambaran
darah tepi hipokrom mikrositer atau bias juga normositer dan biasanya tidak terlihat diakibatkan karena ditutupi
oleh penyakit dasarnya. Anemia jenis ini merupakan anemia yang paling sering
nomor dua setelah anemia defisiensi besi. Sebagai besar penyebar anemia pada
penyakit kronis adalah akibat adanya sitokin yang menghambat produksi
eritropoietin, menghambat sintesis sel darah merah, dan meningkatkan produksi
hepeidin.
B. Saran
Bagi pembaca dan masyarakat sebaiknya
harus menjaga kesehatan lingkungan dan makanan serta pola makan agar memenuhi
kecukupan akan
Fe pada tubuh kita sehingga kita terhindar dari
penyakit terlebih anemia yang disebabkan karena kurangnya zat besi untuk
memproduksi darah sebagai dampak penyakit kronis.
DAFTAR PUSTAKA
Dwi,
Yunita. 2015. Anemia. Samarinda: Akper Kaltim.
Fahri et al. 2008. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta:
Salemba Medika.
I Gede Andre, 2016. Anemia Karena Penyakit Kronis.FKUM NTB.
Mansjoer, A dkk. 1999.
Kapita Selekta kedokteran. Jakarta: Media Aescualeus.
Masthalina,
Herta dkk. 2015. Pola Konsumsi (Faktor
Inhibitor dan Enhancer Fe) Terhadap Status Anemia Remaja Putri. Semarang:
Jurnal Kesehatan Masyarakat.
Muhammad A dan Sianipar O. 2005. Penentuan Defisiensi Besi Anemia Penyakit
Kronis Menggunakan Peran Indeks sTRfR-F. Indonesia: Journal Of Clinical
Pathology and Medical Laboratory.
Riyanti, et
al. 2008. Pengenalan dan Perawatan Kesehatan. Bandung: Jurnal Kedokteran.
Sudoyo, AW dkk. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Indonesia: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Tjokroprawiro, Askandar. 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed.2.Surabaya: Airlangga University
Press.
Utama, Dwi L. 2016. Anemia Of Chronis Disease. Denpasar: Sanur Paradise
Tidak ada komentar:
Posting Komentar