LAPORAN
PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
PEMERIKSAAN DEFISIENSI GLUKOSA-6-FOSFAT DEHIDROGENASE
(G6PD)

NAMA :
NURAIN DIAN YAPONO
NIM : 18 3145 353 101
KELAS : 2018
C
PROGRAM
STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Defisiensi Enzim
Glukosa-6-fosfat dehydrogenase (G6PD) adalah gangguan metabolism yang paling
banyak ditemuka pada manusia dengan jumlah penderita lebih dari 400 juta orang
di seluruh dunia. Manifestasi klinis yang paling umum adalah anemia hemolitik
akut dan penyait kuning yang umummnya distimulasi oleh senyawa-senyawa
oksidatif dalam kacang-kacangan dan obat-obatan. Defesiensi enzim ini
menyebabkan produksi NADPH sebagai tenaga pereduksi dan glutation tereduksi
yang dihasilkan sel darah merah lebih rendah, sehingga sel bersifat lebih
oksidatif dan rentan mengalami hemolysis pada saat terpapar stress oksidatif,
radikal bebas, ataupun infeksi. Mudah lisisnya sel darah merah menyebabkan
parasite malaria seperti Plasmodium
falcifarum dan Plasmodium vivax,
tidak dapat hidup cukup lama untuk menginfeksi sel darah merah lainnya,
sehingga orang-orang yang mengalami defesiensi enzim G6PD sangat jarang terkena
kasus malaria yang parah (Dimas, 2013).
Glukosa-6-fosfat dehydrogenase
(G6PD) merupakan enzim pengkatalisis reaksi pertama jalur pentose fosfat dan
memberikan efek reduksi pada semua sel dalam bentuk NADPH (bentuk teredduksi nicotinamide adenine dinucleotide phosphate).
Senyawa NADPH memungkinkan sel-sel bertahan dari stress oksidatif yang dapat
dipicu oleh beberapa bahan oksidan dan menyediakan glutathione dalam bentuk tereduksi. Eritrosit tidak memilik
mitokondria sehingga jalur pentosa fosfat merupakan satu-satunya sumber NADPH,
sehingga pertahanan terhadap kerusakan oksidatif tergantung pada G6PD (Liong,
2014).
Kejadian
defisiensi G6PD banyak pada daerah tropis
dan subtropics. Diketahui pada umumnya insidens defisiensi G6PD dapat
mencapai 25% pada beberapa populasi seperti di daerah Mediterania, Afrika, Asia
Selatan, Eropa Selatan, dan Timur Tengah. Insidens defisiensi G6PD di Indonesia
diperkirakan sebesar 1-14%, Menurut penelitian Soemantri dkk diketahui
prevalensi insidens defisiensi G6PD di Jawa Tengah sebesar 15%. Sementara hasil
penelitian Suhartati dkk insidens defisiensi enzim tersebut di pulau- pulau kecil
di Indonesia (pulau Babar, Tanimbar, Kur, dan Romang di Propinsi Maluku) adalah
1,6-6,7% populasi (Anna, 2010).
Oleh karena itu, berdasarkan uraian diatas mengenai pravelensi kasus Glukosa-6-fosfat
dehydrogenase (G6PD) maka dilakukanlah praktikum pemeriksaan G6PD dalam sampel
darah pasien.
B. TUJUAN
Untuk mengetahui kadar G6PD pada seseorang
yang menunjukan keretanan terkena penyakit Anemia hemolitik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah adalah kendaraan untuk
transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan
lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan
kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan
trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung
hemoglobin terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit
(sel darah putih) satuan pertahanan sistem imun, diangkut dalam darah tempat
cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit penting
dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang cedera. Jika darah
mengalami gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh akan terganggu pula
(Khairil dan Sutikno, 2016).
Enzim glukosa 6
fosfat dehydrogenase (G6PD) merupakan enzim yang diperlukan dalam proses
oksidasi molekul glukosa melalui jalur pentosa fosfat (Hexoxe mono phosfat
shunt / HMP shunt). Dalam proses tersebut akan dihasilkan molekul Nicotinamide
Adenine Dinucleotide Phosphate tereduksi (NADPH) dan ribosa fosfat.
Diketahui bahwa defisiensi enzim G6PD dapat mengakibatkan sel darah merah mudah
pecah sehingga menyebabkan keadaan anemia hemolitik (Anna, 2010).
Defisiensi G6PD
penting untuk menentukan apakah seseorang akan menderita penyakit ini. Gen G6PD
terdapat pada lokus q28 kromososm X dan merupakan penyakit genetic bersifat
resesif-terpaut kelamin yang lebih banyak diderita oleh pria dari pada wanita.
Penyakit akibat defisiensi G6PD pada wanita akan mucul bila terdapat dua kopi
gen yang defektif dalam genomnya. Selama terdapat satu kopi normal gen G6PD
pada seorang wanita akan diproduksi enzim normal sehingga wanita ytersebut
hanya seorang karier (pembawa sifat) dengan fenotipe normal. Pada pria hanya
terdapat satu kromosom X sehingga satu gen yang defektif pasti menyebabkan
defisiensi G6PD (Teresa, 2015).
Penyakit
defisiensi G6PD adalah penyakit genetik, jadi tidak menular tetapi dapat
diwariskan pada keturunannya (penyakit keturunan). Pewarisan sifat keturunan
yang terdapat di dalam keluarga dengan defisiensi G6PD yang bersifat resesif
terkait kromosom X terutama dari kromosom X (garis ibu) sebagai pembawa.
Kromosom X dan Y bertanggung jawab dalam penentuan seks atau jenis kelamin.
Inti sel somatik pada pria mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y dengan
tanda XY, sedangkan pada wanita mempunyai dua kromosom X dengan tanda XX. Dalam
keadaan sakit ditulis Xo, sedangkan normal sebagai X atau Y. Pada penyakit
defisiensi enzim ini yang menderita adalah X yang sifatnya resesif sehingga
pria bila (XY) Hemizigot normal dan bila (XoY) Hemizigot penderita
atau sakit. Pada wanita (XX) Homozigot normal dan (XoX) heterozigot
karier atau pembawa sedangkan (XoXo) Homozigot penderita
adalah sakit (Suhartati, 2010).
Enzim Glukosa 6
fosfat dehirdrogenase merupakan polipeptdia yang terdiri atas 515 asam amino
dengan berat molekul 59 kDa. Gen pengkode enzim ersebut terdiri atas 13 ekson
dan 12 nitron, terletak di lengan panjang kromosom X (Xq28). Enzim G6PD
ditemukan dalam proses metabolism karbohidrat melalui jalur pentose fosfat.
Aktivasi enzim tersebut sangat bergantung pada Nicotinamide Adenin
Dinukleotida Phosphate (NADP), dependent
NADP. Enzim Glukosa 6 fosfat dehydrogenase akan mengoksidasi/ dehidrogenasi
molekul glukosa 6-fosfat menjadi 6-fosfoglukonat, bersamaan dengan proses
tersebut akan dihasilkan NADPH. Peranan penting jalur pentose fosfat adalah
menghasilkan NADPH dan molekul ribose fosfat (Anna, 2010).
Jalur pentose
fosfat aktif terjadi di hati, jaringan adipose, orteks adrenal, tiroid,
eritrosit, testis, dan kelenjar mamae yang sedang laktasi. Aktivitas jalur
tersebut rendah pada kelenjar mamae yang tidak sedang laktasi dan pada otot
rangka. NADPH mempunyai peranan penting dalam sintesis reduktif beberapa proses
metabolism, di antaranya sintesis asam lemak, streroid, asam amino melalui
glutamat dehydrogenase, dan glutation tereduksi (GSH). Sementara itu, ribose
fosfat penting dalam proses pembentukan asam nukleat seperti DNA dan RNA (Anna,
2010).
Glutation adalah
suatu peptide yang terdiri atas tiga molekul asam amino, yaitu asam amino
glutamate, sistein, dan glisin. Di dalam sel darah merah, jalur pentose fosfat
menghasilkan NADPH dengan peranan mereduksi glutation teroksidasi (GSSG)
membentuk glutation tereduksi (GSH) yang dikatalisis oleh enzim glutaion
reductase. Glutation tereduksi diperlukan untuk aktivitas enzim glutation
peroksidase sutau enzim yang mengandung selenium. Enzim glutation peroksidase
berperan untuk mereduksi H2O2 menjadi H2O sebagai bagian dari pertahan tubuh
terhadap peroksidasi lipid. Aktivitas enzim glutation peroksidase sangat
bergantung pada pasokan NADPH yang hanya dapat dibentuk melalui jalur pentose fosfat
di eritrosit (Anna, 2010).
WHO membuat
klasifikasi berdasarkan varian yang ditemukan di setiap Negara, subtitusi dan
subtitusi asam amino yaitu:
Kelas
I: Anemia hemolitik non sferositosis (aktifitas residual G6PD, <20).
Merupakan jenis defesiensi enzim G6PD yang jarang ditemukan. Kelompok ini
mempunyai kelainan fungsional yang berat (varian Harilaou). Sel darah merah
tidak mampu mempertahankan diri dari oksidan endogen, sehingga terjadi
hemolysis kronik. Adanya pemaparan dengan faktor pencetus akan menyebabkan
terjadinya eksaserbasi anemia hemolitik akut.
Kelas
II: Defisiensi berat (aktifitas residual, <10).
Kelompok defisiensi enzim G6P
berat (Varian G6PD Mediteranian). Pemaparan dengan faktor pencetus (eksogen)
akan menimbulkan hemolysis akut dan proses tersebut akan terus berlanjut selama
masih terdapat pemaparan dengan faktor pencetus. Hai ini disebabkan rendahnya
aktivitas enzim G6PD baik pada sel darah merah yang tua maupun muda.
Kelas
III: DefIsiensi sedang (aktifitas residual
G6PD. 10-60).
Kelompok defisiensi enzim G6PD
ringan (varian G6PD A). Pada kelompok ini, hemolysis yang timbul akibat
pemaparan dengan faktor pencetus akan berhenti dengan sendirinya walaupun
pemaparan masih terus berlanjut. Hal ini disebabkan aktivitas enzim G6PD pada
sel darah merah yang muda masih cukup tinggi untuk menahan oksidan, dan hanya
sel darah merah yang tua saja yang mengalami hemolysis.
Kelas
IV: Non defisiensi (aktifitas residual GPD, 100).
Kelompok yang tidak mengalami
gejala-gejala defisiensi G6PD
Kelas
V: Non defisiensi (aktifitas residual
G6PD, >100).
Peran enzim G6PD dalam
mempertahankan keutuhan sel darah merah serta menghindarkan kejadian hemolitik,
terletak pada fungsinya dalam jalur pentose fosfat. Di dalam sel
Defisiensi enzim ini bukan penyakit
yang serius, secara keseluruhan sehat dan normal. Namun bila penderita ini
terpapar bahan oksidan dapat mengakibatkan gejala klinis dari yang ringan, misal
kelelahan pada otot hingga yang berat antara lain timbulnya kern icterus dengan
gangguan neurologi yang berat, bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh sebab
itu harus menghindari bahan oksidan seumur hidup karena bisa memicu sel
eritrosit untuk pecah secara berlebihan akibatnya bisa menimbulkan gejala
penyakit. Selama ini pengamatan gejala klinik yang terjadi hanya tertuju pada anemia hemolitik. Ternyata pada
ahkir-akhir ini para ahli mengaitkan ada hubungan defisiensi G6PD dengan
masalah kehamilan. Pada usia kehamilan trimester pertama di saat periode krisis
organogenesis jaringan embrio melibatkan beberapa enzim di antaranya adalah
enzim G6PD yang penting bagi pertahanan terhadap dampak buruk oksidan
(Suhartati, 2010).
Menurut
Avelina pada tahun 2019. Manifestasi klinis defisiensi G6PD yaitu Anemia
hemolitik dan non hemolitik.
1.
Anemia hemolitik
Sebagian besar
manifestasi jenis muatan gen G6PD yang mengakibatkan aktivitas enzimnya kurang
dari 60% dari normal. Anemia hemolitik akut terjadi setelah paparan obat atau
bahan kimia. Umumnya setelah satu sampai tiga hari terpapar bahan-bahan
tersebut, penderita akan mengalami demam, letargi, kadang disertai gejala
gastrointestinal. Hemoglobinuria merupakan tanda cardinal, terjadinya hemolysis
intravaskuler ditandai dengan terjadinya urine berwarna merah gelap hingga
coklat. Kemudian timbul icterus dan anemia yang disertai takikardia. Primakuin merupakan
salah satu obat yang dapat memicu hemolysis. Pada umumnya obat tersebut
berinteraksi dengan hemoglobin dan oksigen, yang mengakibatkan produksi oksidan
dan radikal bebas meningkat. Ada beberapa obat yang cukup aman untuk diberikan
pada muatan gen G6PD kelas II dan kelas III, Antara lain aspirin, vitamin C, acetaminopfen,
sulfaxoxasole, dan vitamin K, asalkan diberikan dalam dosis terpai yang umum
digunakan. Obat yang tidak aman untuk jenis muatan Gen G6PD kelas I, II, III
misalnya primakin, asam nalidilat, nitrofurantoin, sulfamilamid.
2.
Anemia non hematologic
Beberapa kasus disiensi G6PD dilaporkan dapat
memberikan manifestasi non hematologic. Dilaporkan bahwa defisiensi G6PD dapat
mengakibatkan juvenile cataract pada
lensa mata. Bahkan bilateral cataract ditemukan
pada anak dengan defisensi G6PD. Defisiensi G6PD dapat menyebabkan kejang otot,
kelelahan pada otot, dan infeksi kronis. Dilaporkan pula bahwa defisiensi
aktivitas enzim G6PD pada lekosit dan netrofil dapat menyebabkan efek pada system
imun yang menyebabkan infeksi kronis dan terbentuknya granuloma pada beberapa
kasus.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. PRA ANALITIK
1. persiapan pasien: tidak memerlukan
persiapan khusus
2. persiapan sampel: sampel darah EDTA
sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam dan disimpan 24 jam di dalam kulkas
dengan suhu 400C jika belum langsung diperiksa.
2. Prinsip: Enzim G6PD mengkatalisis
langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke
ribosa-5-fosfat dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH. Defisiensi
G6PD merupakan salah satu kelainan enzimatik herediter yang paling sering dari eritrosit manusia. Penelitian terbaru
juga menyatakan bahwa aktivitas G6PD memainkan
peran penting dalam mengontrol pertumbuhan sel melalui produksi NADPH.
2. Alat dan
Bahan
A. Alat
1)
Tabung
reaksi
2)
Rak
Tabung
3)
Mikropipet
4)
Torniquet
5)
Stopwatch
B. Bahan
1)
Spoit
2)
Natrium
Sitrat 3,8%
3)
Plasma/Control
4)
Label
5)
Sodium
Nitrat glucose solution 0,1
6)
Alkohol
swab 70%
7)
Tip
8)
Kertas
Label
9)
Pot
sampel
10)Methylene Blue 0.1 ml
B. ANALITIK
1.
Diambil
darah dan di masukan kedalam tabung EDTA
2.
Diberi
label pada masing- masing tabung
3.
Diberi
control masing-masing kontrol1,2,dan 3
4.
Dipipet
reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung
5.
Diberi
Methylene Blue 0,1ml kedalam masing-masing tabung
6.
Dihomogenkan
reagen dan sampel
7.
Dihomogenkan
2ml tabung yang berisi control
8.
Dicampurkan
sampel darah dan reagen
9.
Dihomogenkan
kembalu menggunkan tangan
10.
Dipipipet
2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen
11.
Diinkubasi
dengan suhu 37°C selama 90 menit
12.
selanjutnya
di inkubasi kembali selama 90 menit
13.
Di
Homogenkan kembali
14.
Ditambahkan
2,ml with distilled water dan di
inkubasi
15.
Dimasukan
sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control
16.
Dihomogenkan
kembali
17.
Ditambahkan
20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan
18.
Ditambahkan
20 mikron liters test lalu dihomogenkan
C.
PASCA
ANALITIK
Interprestasi hasil :
a.
Contro
Positif : Merah Tua
b.
Control
Negatif : Merah Muda
c.
Test : Merah Muda
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu
pemeriksaan Defesiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD) dimana, G6PD
adalah merupakan enzim pengkatalisis reaksi pertama jalur pentose fosfat dan
memberikan efek reduksi pada semua sel dalam bentuk NADPH (bentuk teredduksi nicotinamide adenine dinucleotide phosphate).
Senyawa NADPH memungkinkan sel-sel bertahan dari stress oksidatif yang dapat
dipicu oleh beberapa bahan oksidan dan menyediakan glutathione dalam bentuk tereduksi. Eritrosit tidak memilik
mitokondria sehingga jalur pentosa fosfat merupakan satu-satunya sumber NADPH,
sehingga pertahanan terhadap kerusakan oksidatif tergantung pada G6PD. Defisiensi
G6PD merupakan enzimopati yang paling umum diderita manusia dan terkait dengan
kromosom X.
Adapun prinsip dari pemeriksaan ini
yaitu Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama dalam
jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat dan melindungi
sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk
NADPH.
Adapun prosedur kerja dari
pemeriksaan G6PD yaitu yang prtsms-tsms disiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan. Kemudian diambli darah vena dan dimasukan kedalam tabung EDTA diberi
label pada masing-masing tabung. Kemudian diberi control pada masing-masing control
1,2, dan 3, setelah itu dipipet reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke
masing-masing tabung kemudian diberi Methylen blue 0,1 ml kedalam masing-masin
tabung dan dihomogenkan reagen dan sampel.
Kemudian
dihomogenkan 2 ml tabung yang berisis control dan dicampurkan sampel darah dan
reagen kemudian di homogenkan kembali. Setelahh itu dipipet 2 ml control negative
dan di campurkan dengan reagen, setelah itu diinkubasi dengan suhu 370C
selama 90 menit, selnajutnya diinkubasi kembali selama 90 menit dan
dihomogenkan kembali. Kemudian ditambahkan 2 ml with distilled water dan di
inkubasi, setelah itu dimasukan sampel sebanyak 20µl pada tabung negative control
lalu dihomogenkan dan tambahkan 20µl test dan dihomogenkan. Dan baca hasilnya.
Adapun hasil yang didapat yaitu
hasilnya negative pada test. Keselahan yang dapat terjadi pada pemeriksaan G6PD
yaitu tidak menghomogenkan tabung dengan baik atau didak sempurna dan sampel
yang digunakan lisis.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum
yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada sampel yang telah diuji didapakan
hasil yang negative.
B. SARAN
Diharapkan pada praktikum
selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan
dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya
juga selalu menggunakan APD pada saat sedang berada di dalam laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Da Silva, Yolanda Avelina M. 2019. Gambaran defisiensi G6PD pada penderita
malaria di wilayah kerja puskesmas elopada. Kupang: Politeknik Kesehatan
Kemenkes Kupang.
Dewajanti, Anna M. 2010. Peranan Enzim Glukosa 66 Fosfat Dehidrogenase Dalam Mempertahankan
Integritas Memrane Sel Darah Merah Terhadap Bebahan Oksidatif. Jakarta
Barat: FKUK.
Fitriyadi,
K dan Sutikno. 2016. Pengenalan Jenis
Golongan Darah Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron. Semarang:
Jurnal Masyarakat Informatika.
Kurniawan, Liong Boy. 2014. Skrining, Doiagnosis dan Aspek Klinik Defisiensi Glukosa-6- Fosfat
Dehidrogenase (G6PD). Makassar: Countinung Medical Education.
Noor, Ramadhani Dimas. 2013. Karakterisasi Molekuler Defisiensi Enzim Glukosa 6 Fosfat Dehydrogenase
Homo Sapiens Di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur Indonesia.
Bogor: Agricultural University.
Suhartati. 2010. Mewaspadai
Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehirogenase (G6PD) Dalam Upaya Mewujudkan
Indonesia Sehat. Surabaya: ADLN Universitas Airlangga.
Wargasetia, Teresa L. 2015. Varian Molekul Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase.Bandung:
Bilogi Fakultas Kedokteran.