LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI
III
PEMERIKSAAN TES DARAH RUTIN (TES SARING) MENGGUNAKAN
ALAT AUTOMATIC

NAMA :
NURAIN DIAN YAPONO
NIM : 18 3145 353 101
KELAS : 2018
C
PROGRAM
STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pemeriksaan darah rutin merupakan
pemeriksaan yang sering diminta oleh klinis karena dengan melakukan pemeriksaan
darah rutin dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan darah dan dapat
ditentukan arah pemeriksaan lebih lanjut dari penderita tersebut. Pemeriksaan
darah rutin antara lain adalah uji kadar hemoglobin; jumlah eritrosit,
leukosit, trombosit, nilai hematokrit, laju endap darah disingkat LED dan menentukan
indeks eritrosit (Widiastuti,
2019).
Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan
jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem
tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah dan berfungsi sebagai sarana
transpor, alat homeostasis dan alat pertahanan. Darah dibagi menjadi dua bagian
yaitu sel darah dan cairan darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah
(eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan
keping sel (trombosit). Cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu
plasma atau serum (Dewi dkk, 2017).
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak
jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal
antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks plasma tempat
elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel
darah merah) pada hakikatnya adalah kantung hemoglobin terbungkus membran
plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit (sel darah putih) satuan
pertahanan sistem imun, diangkut dalam darah tempat cedera atau tempat invasi
mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit penting dalam homeostasis,
penghentian pendarahan dari pembuluh yang cedera. Jika darah mengalami
gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh akan terganggu pula (Khairil dan
Sutikno, 2016).
Pemeriksaan hematologi metode automatic menggunakan
alat hematology analyzer. Prinsip pemeriksaan dari hematology
analyzer adalah pengukuran dan penyerapan sinar menggunakan panjang
gelombang tertentu dengan spesimen
yang dilewatinya (Ludita, 2016).
B. TUJUAN
Untuk mengetahui jumlah
hemoglobin, hematokrit, leukosit, eritrosit, trombosit dan LED (laju endap
darah) pada tubuh seseorang apakah dalam
batas normal atau abnormal dengan menggunakan alat automatic hematology
analyzer.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup mulai
dari binatang primitive sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu
berada dalam pembuluh darah sehingga dapat
menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen, (Oxygen Carrier), mekanisme pertahanan
tubuh terhadap infeksi, dan mekanisme hemostatis (Made, 2017).
Darah adalah salah satu bagian tubuh yang paling
mendapat perhatian dan penghargaan yang tinggi. Darah umumnya dipandang sebagai
cairan tubuh yang kental, berwarna merah dan tidak transparan serta berada
dalam suaturuangan tertutup yang dinamai sebagai sistme pembuluh darah
(Mohammad, 2014).
Darah adalah jaringan tubuh yang yang berbeda dengan
jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sitem
tertutup yang dinmakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transport
berbagai bahan serta fungsi homeostasis (Mohammad, 2014).
Darah merupakan bagian dari cairan ekstra sel yang
berfungsi untuk mengambil oksigen (O2) dari paru-paru, bahan-bahan
nutrisi dari saluran cerna dan mengangkut hormon dari kelenjar endokrin.
Bahan-bahan tersebut diangkat ke seluruh sel dan jaringan dimana bahan-bahan
tersebut akan berdifusi dan masuk kedalam sel dan selanjutnya akan di
pergunakan untuk semua aktivitas sel, bahan-bahan yang dihasilkan dari proses
metabolsime sel akan dikeluarkan dan diangkat oleh darah untuk diekresi.
(Arlita, 2019).
Di dalam darah mengandung sel-sel darah serta cairan
yang disebut plasma darah yang berisi berbagai zat nutrisi maupun subtansi
lainnya. Sekitar 55% darah merupakan komponen cair atau plasma, sisanya yang 45% adalah komponen
sel-sel darah. Komponen darah manusia secara terinci terdiri atas sel-sel darah
meliputi eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit
(keping darah) dan plasma darah yang merupakan komponen cairan yang mengandung
berbagai nutrisi maupun subtansi penting lainnya yang diperlukan oleh tubuh
manusia , antara lain protein albumin, globulin, faktor-faktor pembekuan darah,
dan berbagai macam elektrolit natrium (Na+), Kalium (K+), Klorida (Cl-), Magnesium (Mg2+),
hormone dan sebagainnya (Novi, 2018).
Darah juga membawa hormon, antibodi, dan zat lainnya ke tempat yang
dibutuhkan. Selain itu, darah membawa produk limbah yang dihasilkan oleh
metabolisme sel ke paru-paru, kulit, hati, dan ginjal, dimana mereka
ditransformasikan dan dihilangkan dari tubuh (Jitowiyono 2018).
Menurut Made pada tahun, 2017, darah terdiri atas 2
komponen utama, yaitu:
1.
Plasma darah : Bagian cair darah
yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah.
2.
Butri- butir darah (Blood Corpucles), yang terdiri atas, eritrosit sel
darh merah (SDM) –red blood cell (RBC) dan lekosit sel darah putih (SDP)- white
blood cell (WBC) dan trombosit butir pembeku platelet.
Pemeriksaan
darah rutin merupakan pemeriksaan yang sering diminta oleh klinis karena dengan
melakukan pemeriksaan darah rutin dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan
darah dan dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan hematologi
rutin terdiri dari hemoglobin/Hb, hematokrit (HCT), hitung jumlah sel darah
merah/eritrosit, hitung jumlah sel darah putih/leukosit, hitung jumlah
trombosit dan indeks eritrosit (Wahdania, 2018).
Menurut Ludita,
pada tahun 2016, mengemukakan adapun pemeriksaan darah rutin yaitu:
1.
Hemoglobin
(Hb)
Hemoglobin
adalah komponen yang berfungsi sebagai alat transportasi oksigen (O2) dan
karbon dioksida (CO). Fungsi hemoglobin sendiri adalah mengatur pertukaran
oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan tubuh. Mengambil oksigen dari
paru-paru kemudian dibawah keseluruh tubuh untuk dipakai sebagai bahan bakar,
mebawa karbondioksida dari jaringan tubuh sebagai metabolisme ke paru-paru
untuk dibuang.
Hemoglobin
tersusun dari globin (empat rantai protein yang terdiri dari dua unit alfa dan
dua unit beta) dan heme (mengandung atom besi dan porphyrin: suatu pigmen
merah). Pigmen besi hemoglobin bergabung dengan oksigen. Hemoglobin yang
mengangkut oksigen darah (dalam arteri) berwarna merah terang sedangkan
hemoglobin yang kehilangan oksigen (dalam vena) berwarna merah tua. Satu gram
hemoglobin mengangkut 1,34 mL oksigen. Kapasitas angkut ini berhubungan dengan
kadar Hemoglobin bukan jumlah sel darah merah. Nilai normal hemoglobin pada
pria yaitu 12,5 – 16,5 gr/dL dan pada wanita 11,5 – 15,5 gr/dl.
2.
Hematokrit
Hematokrit merupakan suatu hasil
pengukuran yang menyatakan perbandingan sel darah merah terhadap volume
darah.Kata hematokrit berasal dari bahasa Yunani, yaitu hema (berarti
darah) dan krite (yang memiliki arti menilai atau mengukur). Hematokrit
berarti mengukur atau menilai darah. Hematokrit adalah volume eritrosit yang
dipisahkan dari plasma dengan memutarnya atau di sentrifugasi dalam tabung
khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen. Hematokrit disebut juga
dengan nama asing PCV (Packed Cell
Volume), dan HCT (Hematokrit). Nilai
hematokrit digunakan untuk mengetahui ada tidaknya anemia pada pasien.Nilai
normal hematokrit untuk pria 40 – 48% volume sedangkan pada wanita 37 – 43%
volume.
3.
Leukosit
(Sel darah putih).
Sel darah putih merupakan komponen darah
yang berperan dalam memerangi infeksi yang di sebabkan oleh virus,
bakteri,parasit, ataupun proses metabolik toksin, dan lain-lain. Terdapat 5
jenis utama sel darah putih (neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit dan
monosit) dari sel darah putih yang bekerjasama untuk membangun mekanisme utama
tubuh dalam melawan infeksi, termasuk menghasilkan antibody. Sel darah putih
berfungsi sebagai serdadu tubuh, yaitu membunuh dan memakan bibit
penyakit/bakteri yang masuk ke dalam tubuh jaringan dan sebagai pengangkut
yaitu mengangkut/membawa zat lemak dari dinding usus melalui limpa terus ke
pembuluh darah. Jumlah nilai leukosit normal pada umumnya berkisar 5000 – 10000
sel/mm3.
4.
Eritrosit
(Sel darah merah).
Sel darah merah
berbentuk cakram bionkraf dengan diameter sekitar 7,5
mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian tengahnya 1 mikro atau
kurang, tersusun atas membran yang sangat tipis sehingga sangat mudah terjadi
difusi, karbondioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel. Sel
darah merah yang matang mengandung 200 – 300 juta hemoglobin (terdiri darihemyang
mana merupakan gabungan protoportifirin dengan besi dan globin adalah
bagian dari protein yang tersusun oleh 2 rantai alfa dan 2 rantai beta) dan
enzim – enzim seperti G6PD (glucose 6-phophate dehydogenase). Hemoglobin
mengandung kira – kira 95 % besi dan berfungsi membawa oksigen dengan cara
mengikat oksigen (oksihemoglobin) dan diedarkan keseluruh tubuh untuk kebutuhan
metabolisme. Kadar normal hemoglobin tergantung usia dan jenis kelamin. Nilai
eritrosit normal pada pria 4,5 – 6,5juta/µl dan pada wanita
5.
Trombosit
(Pembekuan darh).
Butir pembeku darah (Trombosit) merupakan
sel tak berinti, berbentuk cakram dengan
diameter 2 – 5 µm, berasal dari pertunasan sel raksasa berinti banyak
megakariosit yang terdapat dalam sum – sum tulang. Jumlah trombosit normal
dalam tubuh sekitar 150.000 – 300.000/µl darah dan mempunyai masa hidup sekitar 1 sampai 2 minggu atau kira –
kira 8 hari. Trombosit tersusun atas substansi fospolipid yang penting dalam
pembekuan dan juga menjaga keutuhan pembuluh darah serta memperbaiki pembuluh
darah kecil yang rusak. Trombosit diproduksi di sum – sum tulang belakang
sekitar 80% beredar disirkulasi darah dan hanya 20 % yang disimpan dalam limpa
sebagai cadangan. Fungsi trombosit berkaitan dengan pembekuan darah dan
hemostatis (menghentikan perdarahan, bila pembuluh darah mengalami
kerusakan maka dapat dihentikan dengan proses :
a. Permukaannya menjadi lengket, sehingga
memungkinkan trombosit saling
melekat dan menutupi luka karena ada pembekuan darah.
b. Merangsang pengerutan pembuluh darah, sehingga terjadi penyempitan
ukuran lubang pembuluh darah.
6.
LED
(Laju endap darah).
Laju endap darah merupakan ukuran
kecepatan endap eritrosit yang menggambarkan komposisi plasma serta
perbandingan eritrosit dan plasma. LED dipengaruhi oleh berat sel darah dan
luas permukaan sel serta gravitasi bumi.
LED merupakan uji yang sensitif tapi tidak spesifik. Makin banyak sel
darah merah yang mengendap, maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya juga
dapat ditemukan pada non peradangan seperti pada wanita hamil, wanita sedang
datang bulan, lanjut usia, anemia, kanker, penyakit thyroid, diabetes, penyakit
jantung, kecanduan obat atau narkotika, penggunaan obat cortikosteroid. Pada
lanjut usia akan mempunyai kecenderungan nilai LED lebih tinggi dari orang yang
lebih muda. Begitupun pada wanita akan mempunyai nilai LED lebih tinggi dari
pria.
Auto Hematology
Analyzer adalah alat untuk mengukur sampel berupa darah. Alat ini biasa
digunakan dalam bidang kesehatan untuk membantu diagnosis penyakit diderita
oleh pasien misalnya kanker, diabetes, dan lain – lain. Alat ini digunakan
untuk memeriksa darah lengkap dengan cara menghitung dan mengukur sel darah
secara otomatis berdasarkan impedansi aliran listrik atau berkas cahaya
terhadap sel – sel yang dilewatkan. Prinsip kerja dari alat ini yaitu
pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang
gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya. Alat ini
bekerja berdasarkan prinsip flow cytometer. Flow cytometer adalah
metode pengukuran jumlah dan sifat –
sifat sel yang dibungkus oleh aliran cairan melalui celah sempit, ribuan sel
dialirkan melalui celah tersebut sedemikian rupa sehingga sel dapat lewat satu
persatu, kemudian dilakukan penghitungan jumlah sel dan ukurannya (Ludita,
2016).
Kelebihan
menggunakan metode automatic dalam pemeriksaan adalah: efisien waktu, pemeriksaan
hitung jumlah eritrosit lebih mudah dan akurat. Kekurangan
menggunakan metode automatic adalah: dalam keadaan abnormal sel eritrosit yang mengalami krenasi dapat dibaca
alat sebagai trombosit karena ukuran sel lebih
kecil, harga alat hematology analyzer mahal dan memerlukan perawatan yang cermat, perlunya menjaga
jaminan mutu alat dengan melakukan kalibrasi
secara berkala melalui teknisi (Gandasoebrata, 2013).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
A. PRA ANALITIK
1.
Persiapan
pasien: Tidak memerlukan persiapan khusus
2.
Persiapan
sampel:
- Sampel darah EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya
24 jam
- Sampel dapat disimpan 24 jam di dalam kulkas dengan
suhu 40C
- Anamnesis perlu diperhatikan riwayat perdarahan, obat
yang diminum dan transfuse darah.
3.
Prinsip: Prinsip kerja dari alat ini yaitu pengukuran dan penyerapan
sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan
larutan atau sampel yang dilewatinya. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip flow
cytometer.
4.
Metode: Flow cytometer.
5.
Alat dan Bahan
a.
Alat
1)
Alat autometik
hematology analyzer Dirui BCC-3600
2)
Tabung reaksi
b.
Bahan
1)
Sampel darah
EDTA
2)
Reagen
B. ANALITIK
1.
Disiapkan alat
dan bahan yang akan digunakan
2.
Dilakukan proses
pengambilan darah kemudian dimasukan darah ke dalam tabung EDTA
3.
Dinyalakan alat
hematology analyzer dengan ditekan tombol on/off.
4.
Dipastikan pada
saat dinyalan layar menampilkan menu utama terdapat mode tes “whole blood” pada bagian bawah menu.
5.
Dihomogenkan
sampel darah, kemudian masukkan probe ke dalam tabung berisi sampel darah.
6.
Ditekan “count button” (warna biru tua) untuk
memulai penghisapan sampel. Selama proses penghisapan, pastikan ujung probe
terendam dalam sampel darah sehingga tidak ada udara yang terisap, namun ujung
probe jangan menyentuh dasar tabung.
7.
Selama menghisap
sampel, indicator akan berwarna kuning
8.
Jika sudah
menghsiap sampel, indicator akan berubah warna dari hijau menjadi kuning, probe
akan otomatis masuk ke alat dan memulai proses perhitungan sampel.
9.
Hasil
pemeriksaan akan ditampilkan di layar dan otomatis tercetak apabila printer
distetel ”Auto”.
10. Dibaca hasil pemeriksaan lalu dicatat.
C. PASCA ANALITIK
1. Eritrosit
Wanita : 4 juta-5 juta/ul darah
Pria : 4,5 juta-5,5 juta/ul darah
2. Hemoglobin
Wanita : 12-14 g/dl
Pria : 14-16 g/dl
3. Hematokrit
Wanita : 38-46%
Pria : 40-54%
4. Leukosit : 5 juta-1 juta/ul darah
5. Trombosit : 150.000-400.0004/ul darah
6. Laju endap darah
Wanita :
<15
Pria :
<10
7. Indeks eritrosit
MCH :
7-31 pg
MCV :
80-96 fl
MCHC :
32-36 g/dl
8. Jenis-Jenis Leukosit
Eosinofil :
2-4%
Basofil :
0-2%
Monosit :
4-8%
Neutrofil Batang :
0-10%
Neutrofil Segmen :
51-67%
Limfosit :
21-35%
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu pemeriksaan
tes darah rutin (tes saring). Pemeriksaan darah rutin merupakan pemeriksaan
yang sering diminta oleh klinis karena dengan melakukan pemeriksaan darah rutin
dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan darah dan dapat ditentukan arah
pemeriksaan lebih lanjut dari penderita tersebut.
Adapun tujuan dari pemeriksaan darah rutin kali ini yaitu untuk
mengetahui jumlah jumlah
hemoglobin, hematokrit, leukosit, eritrosit, trombosit dan LED (laju endap
darah) pada tubuh seseorang apakah dalam
batas normal atau abnormal dengan menggunakan alat automatic hematology
analyzer.
Adapun prinsip
dari pemeriksaan menggunakan alat hematologi analyzer yaitu pengukuran dan
penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang
tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya.
Adapun
bagian alat haematology analyzer, yaitu:
1. Bagian
belakang, terdapat warna hijau untuk cairan diulent, warna biru untuk cairan
rinse atau mencuci, warna orange untuk cairan liece, warna merah sebagai outlet
untuk cairan pembuangan.
2. Bagian
samping, ada pararel (port warna ungu), untuk mengambil atau mengirim data ke
komputer, port RS232 (port bagian atas), digunakan untuk scanner, port 232
(port bagian bawah), bisa digunakan untuk menghubungkan ke komputer dan port
hitam bulat digunakan untuk copy disk drive atau bisa dihubungkan dengan mouse
dan keyboard.
3. Pada
layar, ada F1, untuk melanjutkan ke proses berikutnya, F2, untuk unlock jika
kita ingin menguji, F3, untuk start up atau menghidupkan secara cepat, F5 ada
tombol atas bawah.
Prosedur kerja
kali ini yaitu yang pertama-tama nyalakan alat dengan tombol on/off, setelah
itu siapkan sampel darah EDTA. Kemudian tekan monitor dengan tulisan test,
kemudian ambil profilnya kemudian tekan oke, setelah itu buka penutup tabung
yang berisi darah , masukkan ke jarum pada alat dan tekan tombol berwarna
hijau, dan darah akan disedot tunggu selama 1 menit. Dilihat hasilnya ada
banyak yaitu WBC (Leukosit), RBC (Eritrosit), HGB(Hemoglobin), HCT (Hematokrit),
PLT (Trombosit).
Adapun hasil
pemeriksaan yang dilakukan menggunakan alat hematology analyzer yaitu. Dimana
terdapat parameter yang tampil pada alat hematology analyzer yaitu dimana
terdapat parameter (pemeriksaan), result (hasil), flags (penanda positif,
negative atau tidak ada), units (satuan) dan normal range (nilai normal),
apabila warna merah tandanya tinggi, warna biru tandanya rendah, dan warna
hitam tandanya normal.
|
Paramater
|
Results
|
Flags
|
Unit
|
Normal Range
|
|
WBC (Leukosit)
|
10.0
|
|
10^3/µL
|
[4,8 – 10, 8]
|
|
RBC (Eritrosit)
|
5.13
|
|
10^6/µL
|
[4.7 – 6.1]
|
|
HGB (Hemoglobin)
|
14.8
|
|
g/Dl
|
[14 – 18]
|
|
HCT (Hematokrit)
|
42.5
|
|
%
|
[42 – 52]
|
|
MCV
|
82.8
|
|
fL
|
[79 – 99]
|
|
MCH
|
28.8
|
|
Pg
|
[27 – 31]
|
|
MCHC
|
34.8
|
|
g/dL
|
[33 – 37]
|
|
PLT (Trombosit)
|
59
|
-
|
10^3/µL
|
[150 – 450]
|
|
RDW
|
12.9
|
|
%
|
[11.5 – 14.5]
|
|
PDW
|
21.1
|
+
|
fL
|
[9 – 17]
|
|
MPV
|
11.4
|
|
fL
|
[9 – 13]
|
|
P-LCR
|
37.4
|
|
%
|
[13 – 43]
|
|
NEUT%
|
0.00
|
-
|
%
|
[50 – 70]
|
|
LYMPH%
|
38
|
|
%
|
[25 – 40]
|
|
MXD%
|
0.00
|
-
|
%
|
[25 – 30]
|
|
NEUT#
|
0.00
|
-
|
10^3/µL
|
[2 – 7.7]
|
|
LYMPH#
|
38
|
|
10^3/µL
|
[0.8 – 4]
|
|
MXD#
|
0.00
|
-
|
10^3/µL
|
[2 - 77]
|
Pada tabel di
atas hasil yang didapatkan yaitu WBC, RBC, HGB, HCT dalam batas normal,
sementara MCV, MCH, dan MCHC juga normal berarti hasil ini tidak ada kelainan pada RBC (Eritrosit),
kemudian ke seri leukosit dimana WBCnya tidak ada kelainan, adapun deef
countnya terjadi kesalahan karena tidak ada proses diskriminasi sel pada saat pengukuran.
Karena alat mengalami kebingungan pada saat menghitung jenis leukosit karena
sel-selnya tidak bisa dibedakan, jadi perlu dilakukan diskriminasi dengan
dilakukan secara manual. Kemudian dilihat limfositnya 38, MXD dan NEUT kosong.
Kemudian dilihat PLTnya dimana dibawah normal, dimana pasien mengalami
trombositopenia, kemungkinan terjadi trombositopenia murni atau terjadi
trombositopenia karena demam berdarah (DBD). Tetapi menurut WHO penanda DBD
yaitu salah satunya adanya hemakonsentrasi dengan meningkatnya hematokrit dan
hemoglobin. Sementara pada tabel menunjukan HGBnya naik sedikit, sebenarnya ini
mungkin fisiologinya 11 tetapi karena ada hemakonsentrasi jadi dia berada di
14, 8 dimana masih dalam batas normal.
Pembacaan
histogramnya yang pertama dibaca WBCnya, dimana WBC ada 3 yaitu limfosit ada
Mxd, mix dan neutrophil tidak bisa dibedakan.kemudian untuk RBC dalam batas
normal karena dari puncak ujung grafiknya ditandakan dengan dominasi sel-sel
paling terbanyak.sementara PLTnya lebar sekali dilihat pada PDWnya yaitu 21,1
artinya sel ini bervariasi ada yang
kecil, sedang, dan besar sekali dapat dilihat dari distribusinya dominasi pada
ukuran kecil dan sedang karena dilihat pada lekukanya dan pada grafik
histogramnya naik yang ditandakan tidak bisa membendakan platelet ukuran besar
dan eritrosit berukuran sangat kecil. Dilihat MPV (Hematokrit platelet) normal,
jadi bisa menyimpulkan disini plateletnya rendah tetapi secara morfologinya dia
berukuran variasi.
Adapun apabila HGB,
RBC dan HCT dalam batas normal, tetapi MCV, MCH dan MCHC buruk atau rendah
dimana dapat disimpulkan dalam segi MCV, MCH,MCHC rendah yaitu mikrositik
hipokrom dimana dengan ukuran sel kecil-kecil dan pucat. Tetapi HGBnya normal
itu bukan anemia tetapi mikrositik hipokrom. Sementara PLT dan WBC naik sedikit. Dapat disimpulkan
yaitu leukositosis ringan sementara morfologinya kecil-kecil dan pucat dengan
neutrofilia untuk WBCnya.
Hasil pemeriksaan laboratorium dapat dipengaruhi oleh
banyak faktor terdiri atas:
1. Faktor terkait pasien atau laboratorium, antara lain: Umur,
jenis kelamin, ras, genetik, tinggi badan, berat badan, kondisi klinik, status
nutrisi dan penggunaan obat.
2. Faktor terkait laboratorium antara lain: Cara pengambilan
spesimen, penanganan spesimen, waktu pengambilan, metode analisis, kualitas
spesimen, jenis alat dan teknik pengukuran.
Kesalahan
terkait hasil laboratorium patut dicurigai jika ditemukan tingkat kesalahan
pembacaan yang sangat besar dari hasil pemeriksaan
tidak sesuai dengan gejala dan tanda klinik
pasien. Nilai klinik pemeriksaan laboratorium tergantung pada sensitifitas,
spesifisitas dan akurasi. Sensitifitas
menggambarkan kepekaan tes, spesifisitas menggambarkan kemampuan membedakan penyakit/gangguan fungsi organ, sedangkan akurasi adalah ukuran ketepatan pemeriksaan.
BAB
V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil
yang didapatkan yaitu normal dimana pada bagian RBC, WBC dan PLT semuanya di ambang batas normal,
kecuali jenis leukosit yang tidak dapat terbaca oleh alat sehingga harus
dilakukan pemeriksaan manual untuk jenis leukosit.
B. SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur
pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan
waktu dengan sebaik-baiknya juga selalu menggunakan APD pada saat sedang berada
di dalam laboratorium.
DAFTAR PUSTAKA
Ayang, Ludita. 2016. Pemeriksaan Darah Lengkap Pada Pasien Di Balai Laboratorium Kesehatan
Daerah Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Utara: Repositori Insitusi USU.
Barta, Made. 2017. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC
Dekayana, Arlita. 2019. Hitung Laju Endap Darah (LED). Surabaya: Uwais Inspirasi Indonesia.
Firani, Novi Khila. 2018. Mengenali Sel-Sel Darah dan Kelainan Darah.. Malang: Tim UB Press.
Fitriyadi,
K dan Sutikno. 2016. Pengenalan Jenis
Golongan Darah Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron. Semarang:
Jurnal Masyarakat Informatika.
Gandasoebrata R. 2013. Penuntun Laboratorium Klinis Edisi 15. Jakarta: Dian Rakyat.
Maharani, Dewi Ratih. 2017. Perbedaan Hitung Jumlah Trombosit Metode Impedansi, Langsung dan
Barbara Brown. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang.
Sadikin, Mohammad. 2014. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika.
Sri, Tumpuk Wahdaniah. 2018. Perbedaan Penggunaan Antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA
Terhadap Hasil Pemeriksaan Indeks Eritrosit. Potianak: Jurnal Laboratorium
Khatulistiwa.
Sugeng, Jitowiyono. 2018. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan System Hematologi. Yogyakarta:
Pusataka Baru Press.
Widiastuti. 2019. Gambaran
Hasil Pemeriksaan Darah Rutin (Trombosit Dan Hemoglobin) Pada Mahasiswa Jurusan
Analis Kesehatan Poltekes Kendari. Kendari: KTI.