Minggu, 26 April 2020

LAPORAN PEMERIKSAAN DARAH RUTIN MENGGUNAKAN ALAT HEMATOLOGY ANALYZER


 LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
PEMERIKSAAN TES DARAH RUTIN (TES SARING) MENGGUNAKAN ALAT AUTOMATIC

IMG-20190326-WA0004

NAMA            : NURAIN DIAN YAPONO
NIM                : 18 3145 353 101
KELAS           : 2018 C



PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pemeriksaan darah rutin merupakan pemeriksaan yang sering diminta oleh klinis karena dengan melakukan pemeriksaan darah rutin dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan darah dan dapat ditentukan arah pemeriksaan lebih lanjut dari penderita tersebut. Pemeriksaan darah rutin antara lain adalah uji kadar hemoglobin; jumlah eritrosit, leukosit, trombosit, nilai hematokrit, laju endap darah disingkat LED dan  menentukan  indeks  eritrosit (Widiastuti, 2019).
Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah dan berfungsi sebagai sarana transpor, alat homeostasis dan alat pertahanan. Darah dibagi menjadi dua bagian yaitu sel darah dan cairan darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan  keping sel (trombosit). Cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu plasma atau serum (Dewi dkk, 2017).
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung hemoglobin terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit (sel darah putih) satuan pertahanan sistem imun, diangkut dalam darah tempat cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit penting dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang cedera. Jika darah mengalami gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh akan terganggu pula (Khairil dan Sutikno, 2016).
Pemeriksaan hematologi metode automatic menggunakan alat hematology analyzer. Prinsip pemeriksaan dari hematology analyzer adalah pengukuran dan penyerapan sinar menggunakan panjang gelombang tertentu dengan spesimen
 yang dilewatinya (Ludita, 2016).
B. TUJUAN
Untuk mengetahui jumlah hemoglobin, hematokrit, leukosit, eritrosit, trombosit dan LED (laju endap darah)  pada tubuh seseorang apakah dalam batas normal atau abnormal dengan menggunakan alat automatic hematology analyzer.
































BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup mulai dari binatang primitive sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen, (Oxygen Carrier), mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, dan mekanisme hemostatis (Made, 2017).
Darah adalah salah satu bagian tubuh yang paling mendapat perhatian dan penghargaan yang tinggi. Darah umumnya dipandang sebagai cairan tubuh yang kental, berwarna merah dan tidak transparan serta berada dalam suaturuangan tertutup yang dinamai sebagai sistme pembuluh darah (Mohammad, 2014).
Darah adalah jaringan tubuh yang yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sitem tertutup yang dinmakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transport berbagai bahan serta fungsi homeostasis (Mohammad, 2014).
Darah merupakan bagian dari cairan ekstra sel yang berfungsi untuk mengambil oksigen (O2) dari paru-paru, bahan-bahan nutrisi dari saluran cerna dan mengangkut hormon dari kelenjar endokrin. Bahan-bahan tersebut diangkat ke seluruh sel dan jaringan dimana bahan-bahan tersebut akan berdifusi dan masuk kedalam sel dan selanjutnya akan di pergunakan untuk semua aktivitas sel, bahan-bahan yang dihasilkan dari proses metabolsime sel akan dikeluarkan dan diangkat oleh darah untuk diekresi. (Arlita, 2019).
Di dalam darah mengandung sel-sel darah serta cairan yang disebut plasma darah yang berisi berbagai zat nutrisi maupun subtansi lainnya. Sekitar 55% darah merupakan komponen cair  atau plasma, sisanya yang 45% adalah komponen sel-sel darah. Komponen darah manusia secara terinci terdiri atas sel-sel darah meliputi eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (keping darah) dan plasma darah yang merupakan komponen cairan yang mengandung berbagai nutrisi maupun subtansi penting lainnya yang diperlukan oleh tubuh manusia , antara lain protein albumin, globulin, faktor-faktor pembekuan darah, dan berbagai macam elektrolit natrium (Na+), Kalium (K+),  Klorida (Cl-), Magnesium (Mg2+), hormone dan sebagainnya (Novi, 2018).
Darah juga membawa hormon, antibodi, dan zat lainnya ke tempat yang dibutuhkan. Selain itu, darah membawa produk limbah yang dihasilkan oleh metabolisme sel ke paru-paru, kulit, hati, dan ginjal, dimana mereka ditransformasikan dan dihilangkan dari tubuh (Jitowiyono 2018).
Menurut Made pada tahun, 2017, darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu:
1.      Plasma darah :  Bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah.
2.      Butri- butir darah (Blood Corpucles), yang terdiri atas, eritrosit sel darh merah (SDM) –red blood cell (RBC) dan lekosit sel darah putih (SDP)- white blood cell (WBC) dan trombosit butir pembeku platelet.
Pemeriksaan darah rutin merupakan pemeriksaan yang sering diminta oleh klinis karena dengan melakukan pemeriksaan darah rutin dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan darah dan dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan hematologi rutin terdiri dari hemoglobin/Hb, hematokrit (HCT), hitung jumlah sel darah merah/eritrosit, hitung jumlah sel darah putih/leukosit, hitung jumlah trombosit dan indeks eritrosit (Wahdania, 2018).
Menurut Ludita, pada tahun 2016, mengemukakan adapun pemeriksaan darah rutin yaitu:
1.    Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah komponen yang berfungsi sebagai alat transportasi oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO). Fungsi hemoglobin sendiri adalah mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan tubuh. Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawah keseluruh tubuh untuk dipakai sebagai bahan bakar, mebawa karbondioksida dari jaringan tubuh sebagai metabolisme ke paru-paru untuk dibuang.
Hemoglobin tersusun dari globin (empat rantai protein yang terdiri dari dua unit alfa dan dua unit beta) dan heme (mengandung atom besi dan porphyrin: suatu pigmen merah). Pigmen besi hemoglobin bergabung dengan oksigen. Hemoglobin yang mengangkut oksigen darah (dalam arteri) berwarna merah terang sedangkan hemoglobin yang kehilangan oksigen (dalam vena) berwarna merah tua. Satu gram hemoglobin mengangkut 1,34 mL oksigen. Kapasitas angkut ini berhubungan dengan kadar Hemoglobin bukan jumlah sel darah merah. Nilai normal hemoglobin pada pria yaitu 12,5 – 16,5 gr/dL dan pada wanita 11,5 – 15,5 gr/dl.
2.    Hematokrit
Hematokrit merupakan suatu hasil pengukuran yang menyatakan perbandingan sel darah merah terhadap volume darah.Kata hematokrit berasal dari bahasa Yunani, yaitu hema (berarti darah) dan krite (yang memiliki arti menilai atau mengukur). Hematokrit berarti mengukur atau menilai darah. Hematokrit adalah volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan memutarnya atau di sentrifugasi dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen. Hematokrit disebut juga dengan  nama asing PCV (Packed Cell Volume),  dan HCT (Hematokrit). Nilai hematokrit digunakan untuk mengetahui ada tidaknya anemia pada pasien.Nilai normal hematokrit untuk pria 40 – 48% volume sedangkan pada wanita 37 – 43% volume.
3.    Leukosit (Sel darah putih).
Sel darah putih merupakan komponen darah yang berperan dalam memerangi infeksi yang di sebabkan oleh virus, bakteri,parasit, ataupun proses metabolik toksin, dan lain-lain. Terdapat 5 jenis utama sel darah putih (neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit dan monosit) dari sel darah putih yang bekerjasama untuk membangun mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi, termasuk menghasilkan antibody. Sel darah putih berfungsi sebagai serdadu tubuh, yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit/bakteri yang masuk ke dalam tubuh jaringan dan sebagai pengangkut yaitu mengangkut/membawa zat lemak dari dinding usus melalui limpa terus ke pembuluh darah. Jumlah nilai leukosit normal pada umumnya berkisar 5000 – 10000 sel/mm3.
4.    Eritrosit (Sel darah merah).
Sel darah merah berbentuk cakram bionkraf dengan diameter sekitar 7,5
mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian tengahnya 1 mikro atau kurang, tersusun atas membran yang sangat tipis sehingga sangat mudah terjadi difusi, karbondioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel. Sel darah merah yang matang mengandung 200 – 300 juta hemoglobin (terdiri darihemyang mana merupakan gabungan protoportifirin dengan besi dan globin adalah bagian dari protein yang tersusun oleh 2 rantai alfa dan 2 rantai beta) dan enzim – enzim seperti G6PD (glucose 6-phophate dehydogenase). Hemoglobin mengandung kira – kira 95 % besi dan berfungsi membawa oksigen dengan cara mengikat oksigen (oksihemoglobin) dan diedarkan keseluruh tubuh untuk kebutuhan metabolisme. Kadar normal hemoglobin tergantung usia dan jenis kelamin. Nilai eritrosit normal pada pria 4,5 – 6,5juta/µl dan pada wanita
5.    Trombosit (Pembekuan darh).
Butir pembeku darah (Trombosit) merupakan sel tak berinti, berbentuk  cakram dengan diameter 2 – 5 µm, berasal dari pertunasan sel raksasa berinti banyak megakariosit yang terdapat dalam sum – sum tulang. Jumlah trombosit normal dalam tubuh  sekitar 150.000 – 300.000/µl darah dan mempunyai masa hidup sekitar 1 sampai 2 minggu atau kira – kira 8 hari. Trombosit tersusun atas substansi fospolipid yang penting dalam pembekuan dan juga menjaga keutuhan pembuluh darah serta memperbaiki pembuluh darah kecil yang rusak. Trombosit diproduksi di sum – sum tulang belakang sekitar 80% beredar disirkulasi darah dan hanya 20 % yang disimpan dalam limpa sebagai cadangan. Fungsi trombosit berkaitan dengan pembekuan darah dan hemostatis (menghentikan perdarahan, bila pembuluh darah mengalami kerusakan maka dapat dihentikan dengan proses :
a. Permukaannya menjadi lengket, sehingga memungkinkan trombosit saling
melekat dan menutupi luka karena ada pembekuan darah.
b. Merangsang pengerutan pembuluh darah, sehingga terjadi penyempitan
ukuran lubang pembuluh darah.
6.    LED (Laju endap darah).
Laju endap darah merupakan ukuran kecepatan endap eritrosit yang menggambarkan komposisi plasma serta perbandingan eritrosit dan plasma. LED dipengaruhi oleh berat sel darah dan luas permukaan sel serta gravitasi bumi.  LED merupakan uji yang sensitif tapi tidak spesifik. Makin banyak sel darah merah yang mengendap, maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya juga dapat ditemukan pada non peradangan seperti pada wanita hamil, wanita sedang datang bulan, lanjut usia, anemia, kanker, penyakit thyroid, diabetes, penyakit jantung, kecanduan obat atau narkotika, penggunaan obat cortikosteroid. Pada lanjut usia akan mempunyai kecenderungan nilai LED lebih tinggi dari orang yang lebih muda. Begitupun pada wanita akan mempunyai nilai LED lebih tinggi dari pria.
Auto Hematology Analyzer adalah alat untuk mengukur sampel berupa darah. Alat ini biasa digunakan dalam bidang kesehatan untuk membantu diagnosis penyakit diderita oleh pasien misalnya kanker, diabetes, dan lain – lain. Alat ini digunakan untuk memeriksa darah lengkap dengan cara menghitung dan mengukur sel darah secara otomatis berdasarkan impedansi aliran listrik atau berkas cahaya terhadap sel – sel yang dilewatkan. Prinsip kerja dari alat ini yaitu pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip flow cytometer. Flow cytometer adalah metode pengukuran  jumlah dan sifat – sifat sel yang dibungkus oleh aliran cairan melalui celah sempit, ribuan sel dialirkan melalui celah tersebut sedemikian rupa sehingga sel dapat lewat satu persatu, kemudian dilakukan penghitungan jumlah sel dan ukurannya (Ludita, 2016).
Kelebihan menggunakan metode automatic dalam pemeriksaan adalah: efisien waktu, pemeriksaan hitung jumlah eritrosit lebih mudah dan akurat. Kekurangan menggunakan metode automatic adalah: dalam keadaan abnormal sel eritrosit yang mengalami krenasi dapat dibaca alat sebagai trombosit karena ukuran sel lebih kecil, harga alat hematology analyzer mahal dan memerlukan perawatan yang cermat, perlunya menjaga jaminan mutu alat dengan melakukan kalibrasi secara berkala melalui teknisi  (Gandasoebrata, 2013).



BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.  PRA ANALITIK
1.      Persiapan pasien: Tidak memerlukan persiapan khusus
2.      Persiapan sampel:
-  Sampel darah EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 24 jam
-  Sampel dapat disimpan 24 jam di dalam kulkas dengan suhu 40C
-  Anamnesis perlu diperhatikan riwayat perdarahan, obat yang diminum dan transfuse darah.
3.      Prinsip: Prinsip kerja dari alat ini yaitu pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip flow cytometer.
4.      Metode: Flow cytometer.
5.      Alat dan Bahan
a.    Alat
1)   Alat autometik hematology analyzer Dirui BCC-3600
2)   Tabung reaksi
b.    Bahan
1)   Sampel darah EDTA
2)   Reagen
B.  ANALITIK
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.      Dilakukan proses pengambilan darah kemudian dimasukan darah ke dalam tabung EDTA
3.      Dinyalakan alat hematology analyzer dengan ditekan tombol on/off.
4.      Dipastikan pada saat dinyalan layar menampilkan menu utama terdapat mode tes “whole blood” pada bagian bawah menu.
5.      Dihomogenkan sampel darah, kemudian masukkan probe ke dalam tabung berisi sampel darah.
6.      Ditekan “count button” (warna biru tua) untuk memulai penghisapan sampel. Selama proses penghisapan, pastikan ujung probe terendam dalam sampel darah sehingga tidak ada udara yang terisap, namun ujung probe jangan menyentuh dasar tabung.
7.      Selama menghisap sampel, indicator akan berwarna kuning
8.      Jika sudah menghsiap sampel, indicator akan berubah warna dari hijau menjadi kuning, probe akan otomatis masuk ke alat dan memulai proses perhitungan sampel.
9.      Hasil pemeriksaan akan ditampilkan di layar dan otomatis tercetak apabila printer distetel ”Auto”.
10.  Dibaca hasil pemeriksaan lalu dicatat.
C.  PASCA ANALITIK
1.      Eritrosit
Wanita                         : 4 juta-5 juta/ul darah
Pria                              : 4,5 juta-5,5 juta/ul darah
2.      Hemoglobin
Wanita                         : 12-14 g/dl
Pria                              : 14-16 g/dl
3.      Hematokrit
Wanita                         : 38-46%
Pria                              : 40-54%
4.      Leukosit                      : 5 juta-1 juta/ul darah
5.      Trombosit                    : 150.000-400.0004/ul darah
6.      Laju endap darah
Wanita                         : <15
Pria                              : <10
7.      Indeks eritrosit
MCH                           : 7-31 pg
MCV                           : 80-96 fl
MCHC                                    : 32-36 g/dl
8.      Jenis-Jenis Leukosit
Eosinofil                      : 2-4%
Basofil                         : 0-2%
Monosit                       : 4-8% 
Neutrofil Batang         : 0-10%
Neutrofil Segmen        : 51-67%
Limfosit                      : 21-35%

























BAB IV
PEMBAHASAN
   Pada praktikum kali ini yaitu pemeriksaan tes darah rutin (tes saring). Pemeriksaan darah rutin merupakan pemeriksaan yang sering diminta oleh klinis karena dengan melakukan pemeriksaan darah rutin dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan darah dan dapat ditentukan arah pemeriksaan lebih lanjut dari penderita tersebut.  
Adapun tujuan dari pemeriksaan darah rutin kali ini yaitu untuk mengetahui jumlah jumlah hemoglobin, hematokrit, leukosit, eritrosit, trombosit dan LED (laju endap darah)  pada tubuh seseorang apakah dalam batas normal atau abnormal dengan menggunakan alat automatic hematology analyzer.
Adapun prinsip dari pemeriksaan menggunakan alat hematologi analyzer yaitu pengukuran dan penyerapan sinar akibat interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang tertentu dengan larutan atau sampel yang dilewatinya.
Adapun bagian alat haematology analyzer, yaitu:
1.    Bagian belakang, terdapat warna hijau untuk cairan diulent, warna biru untuk cairan rinse atau mencuci, warna orange untuk cairan liece, warna merah sebagai outlet untuk cairan pembuangan.
2.    Bagian samping, ada pararel (port warna ungu), untuk mengambil atau mengirim data ke komputer, port RS232 (port bagian atas), digunakan untuk scanner, port 232 (port bagian bawah), bisa digunakan untuk menghubungkan ke komputer dan port hitam bulat digunakan untuk copy disk drive atau bisa dihubungkan dengan mouse dan keyboard.
3.    Pada layar, ada F1, untuk melanjutkan ke proses berikutnya, F2, untuk unlock jika kita ingin menguji, F3, untuk start up atau menghidupkan secara cepat, F5 ada tombol atas bawah.
Prosedur kerja kali ini yaitu yang pertama-tama nyalakan alat dengan tombol on/off, setelah itu siapkan sampel darah EDTA. Kemudian tekan monitor dengan tulisan test, kemudian ambil profilnya kemudian tekan oke, setelah itu buka penutup tabung yang berisi darah , masukkan ke jarum pada alat dan tekan tombol berwarna hijau, dan darah akan disedot tunggu selama 1 menit. Dilihat hasilnya ada banyak yaitu  WBC (Leukosit),  RBC (Eritrosit), HGB(Hemoglobin), HCT (Hematokrit), PLT (Trombosit).
Adapun hasil pemeriksaan yang dilakukan menggunakan alat hematology analyzer yaitu. Dimana terdapat parameter yang tampil pada alat hematology analyzer yaitu dimana terdapat parameter (pemeriksaan), result (hasil), flags (penanda positif, negative atau tidak ada), units (satuan) dan normal range (nilai normal), apabila warna merah tandanya tinggi, warna biru tandanya rendah, dan warna hitam tandanya normal.
Paramater
Results
Flags
Unit
Normal Range
WBC (Leukosit)
10.0

10^3/µL
[4,8 – 10, 8]
RBC (Eritrosit)
5.13

10^6/µL
[4.7 – 6.1]
HGB (Hemoglobin)
14.8

g/Dl
[14 – 18]
HCT (Hematokrit)
42.5

%
[42 – 52]
MCV
82.8

fL
[79 – 99]
MCH
28.8

Pg
[27 – 31]
MCHC
34.8

g/dL
[33 – 37]
PLT (Trombosit)
59
-
10^3/µL
[150 – 450]
RDW
12.9

%
[11.5 – 14.5]
PDW
21.1
+
fL
[9 – 17]
MPV
11.4

fL
[9 – 13]
P-LCR
37.4

%
[13 – 43]
NEUT%
0.00
-
%
[50 – 70]
LYMPH%
38

%
[25 – 40]
MXD%
0.00
-
%
[25 – 30]
NEUT#
0.00
-
10^3/µL
[2 – 7.7]
LYMPH#
38

10^3/µL
[0.8 – 4]
MXD#
0.00
-
10^3/µL
[2 - 77]
Pada tabel di atas hasil yang didapatkan yaitu WBC, RBC, HGB, HCT dalam batas normal, sementara MCV, MCH, dan MCHC juga normal berarti hasil ini  tidak ada kelainan pada RBC (Eritrosit), kemudian ke seri leukosit dimana WBCnya tidak ada kelainan, adapun deef countnya terjadi kesalahan karena tidak ada  proses diskriminasi sel pada saat pengukuran. Karena alat mengalami kebingungan pada saat menghitung jenis leukosit karena sel-selnya tidak bisa dibedakan, jadi perlu dilakukan diskriminasi dengan dilakukan secara manual. Kemudian dilihat limfositnya 38, MXD dan NEUT kosong. Kemudian dilihat PLTnya  dimana  dibawah normal, dimana pasien mengalami trombositopenia, kemungkinan terjadi trombositopenia murni atau terjadi trombositopenia karena demam berdarah (DBD). Tetapi menurut WHO penanda DBD yaitu salah satunya adanya hemakonsentrasi dengan meningkatnya hematokrit dan hemoglobin. Sementara pada tabel menunjukan HGBnya naik sedikit, sebenarnya ini mungkin fisiologinya 11 tetapi karena ada hemakonsentrasi jadi dia berada di 14, 8 dimana masih dalam batas normal.
Pembacaan histogramnya yang pertama dibaca WBCnya, dimana WBC ada 3 yaitu limfosit ada Mxd, mix dan neutrophil tidak bisa dibedakan.kemudian untuk RBC dalam batas normal karena dari puncak ujung grafiknya ditandakan dengan dominasi sel-sel paling terbanyak.sementara PLTnya lebar sekali dilihat pada PDWnya yaitu 21,1 artinya sel ini bervariasi ada  yang kecil, sedang, dan besar sekali dapat dilihat dari distribusinya dominasi pada ukuran kecil dan sedang karena dilihat pada lekukanya dan pada grafik histogramnya naik yang ditandakan tidak bisa membendakan platelet ukuran besar dan eritrosit berukuran sangat kecil. Dilihat MPV (Hematokrit platelet) normal, jadi bisa menyimpulkan disini plateletnya rendah tetapi secara morfologinya dia berukuran variasi.
Adapun apabila HGB, RBC dan HCT dalam batas normal, tetapi MCV, MCH dan MCHC buruk atau rendah dimana dapat disimpulkan dalam segi MCV, MCH,MCHC rendah yaitu mikrositik hipokrom dimana dengan ukuran sel kecil-kecil dan pucat. Tetapi HGBnya normal itu bukan anemia tetapi mikrositik hipokrom. Sementara  PLT dan WBC naik sedikit. Dapat disimpulkan yaitu leukositosis ringan sementara morfologinya kecil-kecil dan pucat dengan neutrofilia untuk WBCnya.
Hasil pemeriksaan laboratorium dapat dipengaruhi oleh banyak faktor terdiri atas:
1.    Faktor terkait pasien atau laboratorium, antara lain: Umur, jenis kelamin, ras, genetik, tinggi badan, berat badan, kondisi klinik, status nutrisi dan  penggunaan obat.
2.    Faktor terkait laboratorium antara lain: Cara pengambilan spesimen, penanganan spesimen, waktu pengambilan, metode analisis, kualitas spesimen, jenis alat dan teknik pengukuran.
Kesalahan terkait hasil laboratorium patut dicurigai jika ditemukan tingkat kesalahan pembacaan yang sangat besar dari hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan gejala dan tanda klinik pasien. Nilai klinik pemeriksaan laboratorium tergantung pada sensitifitas, spesifisitas dan akurasi. Sensitifitas menggambarkan kepekaan tes, spesifisitas menggambarkan kemampuan membedakan penyakit/gangguan fungsi organ,  sedangkan akurasi adalah ukuran ketepatan pemeriksaan.



















BAB V
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa hasil yang didapatkan yaitu normal dimana pada bagian RBC, WBC dan PLT semuanya di ambang batas normal, kecuali jenis leukosit yang tidak dapat terbaca oleh alat sehingga harus dilakukan pemeriksaan manual untuk jenis leukosit.
B.  SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya juga selalu menggunakan APD pada saat sedang berada di dalam laboratorium.



















DAFTAR PUSTAKA
Ayang, Ludita. 2016. Pemeriksaan Darah Lengkap Pada Pasien Di Balai Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Utara: Repositori Insitusi USU.

Barta, Made. 2017. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC

Dekayana, Arlita. 2019. Hitung Laju Endap Darah (LED). Surabaya: Uwais Inspirasi Indonesia.

Firani, Novi Khila. 2018. Mengenali Sel-Sel Darah dan Kelainan Darah.. Malang: Tim UB Press.

Fitriyadi, K dan Sutikno. 2016. Pengenalan Jenis Golongan Darah Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron. Semarang: Jurnal Masyarakat Informatika.

Gandasoebrata R. 2013. Penuntun Laboratorium Klinis Edisi 15. Jakarta: Dian Rakyat.

Maharani, Dewi Ratih. 2017. Perbedaan Hitung Jumlah Trombosit Metode Impedansi, Langsung dan Barbara Brown. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang.

Sadikin, Mohammad. 2014. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika.
Sri, Tumpuk Wahdaniah. 2018. Perbedaan Penggunaan Antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA Terhadap Hasil Pemeriksaan Indeks Eritrosit. Potianak: Jurnal Laboratorium Khatulistiwa.

Sugeng, Jitowiyono. 2018. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan System Hematologi. Yogyakarta: Pusataka Baru Press.

Widiastuti. 2019. Gambaran Hasil Pemeriksaan Darah Rutin (Trombosit Dan Hemoglobin) Pada Mahasiswa Jurusan Analis Kesehatan Poltekes Kendari. Kendari: KTI.