Jumat, 17 April 2020

MAKALAH THALASEMIA


MAKALAH HEMATOLOGI III
“THALASEMIA”

IMG-20190326-WA0004


NAMA            : NURAIN DIAN YAPONO
NIM                : 18 3145 353 101
KELAS           : 2018 C



PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020




KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Thalasemia Dan Penegakan Diagnosis Berdasarkan Tes Saring Dan Tes Diagnostik ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Hematologi III. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.




                                                                                         Makassar, 17 April 2020
                                                                                       Penyusun



        Nurain Dian Yapono













BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Hemoglobin adalah suatu zat di dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut zat asam dari paru-paru ke seluruh tubuh, juga memberi warna merah pada eritrosit. Hemoglobin manusia terdiri dari persenyawaan hem dan globin. Hemterdiri dari zat besi polipeptida. Hemoglobin pada manusia normal terdiri dari 2 rantai alfa dan 2 rantai beta. Penderita Thalasemia tidak mampu memproduksi salah satu dari protein tersebut dalam jumlah yang cukup, sehingga sel darah merahnya tidak terbentuk dengan sempurna. Akibatnya hemoglobin tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah yang cukup. Oleh karena itu, penderita Thalasemia mengalami anemia sepanjang hidupnya (Harvina dan Cut, 2018).
Thalassemia merupakan kelainan genetic terbanyak di dunia. Kelainan ini diturunkan secara resesif menurut hukum Mendel. Penyakit yang semula ditemukan di sekitar Laut Tengah ini ternyata tersebar luas sepanjang garis khatulistiwa,termasuk Indonesia. Tidak kurang dari 300.000 bayi dengan kelainan berat penyakit ini dilahirkan setiap tahun di dunia, sedangkan jumlah penderita thalassemia heterosigotnya tidak kurang dari 250 juta orang. Hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Pengobatan utama penyakit ini ialah pemberian transfusi darah dengan mempertahankan kadar hemoglobin di atas 10 g/dl; tetapi ironisnya ialah bahwa jumlah zat besi yang tertimbun dalam organ-organ tubuhnya akibat transfusi, menjadi salah satu penyebab kematian (Iskandar, 2003).
Penimbunan zat besi dalam organ-organ tubuh seperti hati, jantung, kelenjar endokrin dan lain-lain, menyebabkan gangguan fungsi organ tersebut. Gangguan fungsi organ mulai tampak pada anakanak yang telah mendapat banyak transfusi darah yaitu anak-anak yang berumur 5 th ke atas. Transfusi  darah ini diberikan seumur hidupnya, umumnya jarak antara dua seri transfusi darah berkisar antara 2-3 bulan. Transfusi yang berulang-ulang inilah sebenarnya yang menimbulkan banyak komplikas dalam penanganan penderita thalassemia (Iskandar, 2003).
B.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi dari Thalasemia
2.      Untuk mengetahui klasifikasi dari Thalassemia
3.      Untuk mengetahui patofisiologi dari Thalasemia
4.      Untuk mengetahui diagnostic dari Thalassemia





















BAB II
PEMBAHASAN
A.  Definisi Thalasemia
Sel darah merah (eritrosit) merupakan komponen darah yang jumlahnya paling banyak. Sel darah merah normal berbentuk cakram dengan kedua permukaannya cekung atau bikonkaf, tidak memiliki inti, dan mengandung hemoglobin. Kelainan pada sel darah merah terjadi karena sel darah merah dan/atau masa hemoglobin yang beredar tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh yang sering disebut dengan anemia. Ada dua tipe anemia yaitu anemia gizi dan non-gizi. Anemia gizi terjadi akibat kekurangan gizi, sedangkan anemia non-gizi disebabkan oleh kelainan genetic. Salah satu penyakit anemia non-gizi yang sering diderita adalah Thalasemia (Esti dkk, 2015).
Anemia Thalasemia merupakan penyakit hemolitik atau kurangnya kadar hemoglobin yang disebabkan oleh defisiensi pembentukan rantai globin Alpha atau Betha yang menyusun hemoglobin. Berdasarkan defisiensi pembentukan rantai globin tersebut maka Thalasemia dibedakan menjadi Thalasemia Alpha dan Thalasemia Betha. Berdasarkan gejala klinis Thalasemia dikategorikan menjadi dua yaitu Thalasemia minor dan Thalasemia Mayor. Jenis Thalasemia yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Thalasemia Betha (ß) Mayor yaitu sebanyak 50%. Identifikasi Thalasemia  Betha (ß) Mayor biasanya dilakukan melalui pemeriksaan hematologi, akan tetapi proses tersebut membutuhkan waktu dan keahlian (jam terbang pengidentifikasi). Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan teknologi pengolahan citra dalam membantu mengidentifikasi sel darah (Esti dkk, 2015).
Thalassemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan (inherited) dan masuk ke dalam kelompok hemoglobinopati, yakni kelaina yang disebbakan oleh gangguan system hemoglobin akibat mutasi di dalam atau dekat gen globin. Mutasi gen globin ini dapat menimbulkan dua perubahan rantai globin, yakni perubahan struktur rangkaian asam amino acid sequence rantai globin tertentu, disebut hemoglobinopati struktrual. Perubahan kecepatan sintesis atau kemampuan produksi rantai globin tertentu disebut Thalasemia (Nurarif, 2013).
Thalassemia adalah penyakit yang dirunkan kepada anaknya. Anak yang mewarisi gen Thalasemia dari satu orang tua dan gen normal dari orang tua yang lain adalah seorang pembawa (carriers). Anak yang mewarisi gen Thalasemia dari kedua orangtuannya akan menderita Thalasemia sedang sampai berat (Munce dan Campbell, 2009).
B.  Tipe Thalasemia
Talasemia dibagi menjadi talasemia alfa (α) dan beta (ß).Talasemia α terjadi karena akibat kurangnya (defisiensi parsial) atau tidak di produksi sama sekali (defisiensi total) produksi rantai globin α, sedangkan talasemia ß terjadi akibat berkurangnya rantai globin ß atau tidak diproduksi sama sekali rantai globin ß. Secara molekuler, talasemia dibedakan atas talasemia a dan ß, sedangkan secara klinis dibedakan atas talasemia minor dan mayor. Gejala klinis penderita talasemia meliputi anemia, jaundice, retardasi atau keterbelakangan pertumbuhan, kelainan bentuk tulang terutama di wajah, pembesaran limpa, dan kerentanan terhadap infeksi (Mala dan Ayu, 2018).
Talasemia-a mayor adalah penyakit yang mematikan. Semua janin yang terkena akan lahir dalam keadaan hydrops fetalis akibat anemia berat. Beberapa
laporan pernah mendeskripsikan adanya neonatus dengan talasemia-a mayor yang bertahan setelah mendapat transfusi intrauterin. Penderita seperti ini membutuhkan perawatan medis yang ekstensif setelahnya, termasuk transfuse darah teratur dan terapi kelasi, sama dengan penderita talasemia-ß mayor. Terdapat juga laporan kasus yang lebih jarang mengenai neonatus dengan talasemia-a mayor yang lahir tanpa hydrops fetalis yang bertahan tanpa transfuse intrauterin. Pada kasus ini, tingginya level hemoglobin Portland, yang merupakan hemoglobin fungsional embrionik, diperkirakan sebagai penyebab kondisi klinis yang jarang tersebut (Harahap, 2013).
Thalasemia Betha (ß) Mayor ditandai dengan rusaknya sel darah merah serta perubahan morfologi pada sel darah merah yang meliputi bentuk dan ukuran sel. Perubahan tersebut ditandai dengan adanya sel-sel abnormal yaitu sel mikrositik, eritrosit berinti (eritroblast), small fragment dan sel target (leptocytes). Mikrositik merupakan sel darah merah yang mempunyai ukuran sel lebih kecil dari sel darah merah  normal yaitu berukuran < 6µm, eritroblast merupakan eritrosit yang masih muda, mempunyai ukuran yang sama dengan sel darah putih tetapi inti sel cenderung keluar, small fragment merupakan pecahan sel darah merah sedangkan sel target merupakan sel darah merah yang menyerupai bentuk seperti mata sapi (Esti, 2015).
C.  Definisi Hemoglobin Normal
Hemoglobin adalah suatu zat di dalam sel darah merah yang berfungsi  mengangkut zat asam dari paru-paru ke seluruh tubuh, juga memberi warna merah pada eritrosit. Hemoglobin manusia terdiri dari persenyawaan hem dan globin. Hem terdiri dari zat besi (Fe) dan globin adalah suatu protein yang terdiri dari rantai polipeptida. Hemoglobin pada manusia normal terdiri dari 2 rantai alfa (α) dan 2 rantai beta (ß) yang meliputi HbA (α2ß2 = 97%), sebagian lagi HbA2 (α2d2 = 2,5%) sisanya HbF (α2ƴ2 = 0,5%) (Harahap, 2013).
Fungsional hemoglobin dalam menyuplai atau membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh yang digunakan untuk oksidasi sel. Sehingga oksigenasi ke jaringan berkurang. Selain sebagai pembawa oksigen, hemoglobin juga sebagai pigmen merah eritrosit sehingga apabila terjadi penurunan kadar hemoglobin ke jaringan maka jaringan tersebut menjadi pucat. Penurunan produksi dari satu atau lebih rantai globin tertentu. Penurunan fungsional hemoglobin tersebut dapat disebabkan oleh adanya kelainan pembentukan hemoglobin, penurunan besi sebagai pengikat oksigen dalam hemoglobin (Harahap, 2013).
D.  Klasifikasi Thalasemia
Tanda dan gejala klinis pasien thalasemia bergantung pada derajat yang dibedakan atas thalassemia minor, intermediate dan mayor. Tanda dan gejala dapat berupa anemia dengan berbagai derajat keparahan, hepatosplenomegali, gagal jantung kongestif, dan gagal tumbuh pada pasien thalasemia anak. Pasien thalassemia juga mengalami kelainan tulang yang disebabkan karena hiperplasia sumsum tulang terutama pada tulang wajah dan tengkorak (Yanuiarita dan Wijayanti, 2018).
Adapun menurut Lantip Rujito pada tahun 2019, klasifikasi klinis thalassemia terbagi atas 3 pembagian utama yaitu:
1.      Talasemia mayor
Talasemia mayor adalah adalah keadaan klinis Talasemia yang  paling berat. Kondisi Talasemia mayor terjadi karena gen penyandi hemoglobin pada 2 alel kromosom mengalami kelainan. Pasien membutuhkan transfusi darah sejak tahun pertama pertumbuhan pada rentang usia 6-24 bulan dan kontinyu sampai seumur hidupnya. Rutinitas transfusi Talasemia mayor berkisar antara 2 minggu sekali sampai 4 minggu sekali.
2.      Talasemia intermedia 
Sama seperti halnya Talasemia mayor, individu dengan Talasemia intermedia terjadi akibat kelainan pada 2 kromosom yang menurun dari ayah dan ibunya. Perbedaan ada pada jenis gen mutan yang menurun. Individu Talasemia mayor menurun 2 gen mutan bertipe mutan berat, sedangkan pada Talasemia intermedia 2 gen tersebut merupakan kombinasi mutan berat dan ringan, atau mutan ringan danmutan ringan. Onset awitan atau kenampakan klinis dari Talasemia intermedia tidak se awal Talasemia mayor. Diagnosis awal bisa terjadi pada usia belasan tahun, atau bahkan pada usia dewasa. Secara klinis Talasemia intermedia menunjukkan gejala dan tanda yang sama dengan Talasemia mayor, namun lebih ringan dari gambaran Talasemia mayor. Pasien intermedia tidak rutin dalam memenuhi transfusi darah nya, terkadang hanya 3 bulan sekali, 6 bulan sekali atau bahkan 1 tahun sekali. Namun pada keadaan tertentu, keadaan intermedia dapat jatuh ke keadaan mayor jika tubuh mengeluarkan darah yang cukup banyak, atau tubuh memerlukan metabolisme yang tinggi seperti keadaan infeksi yang menahun, kanker atau keadaan klinis lain yang melemahkan sistem fisiologishematologi atau sistem darah. Pasien Talasemia intermedia ini dapat cenderung menjadi mayor ketika anemia kronis tidak tertangani dengan baik dan sudah menyebabkan gangguan organorgan seperti hati, ginjal, pankreas, dan limpa
3.      Talasemia minor
Talasemia minor bisa juga disebut sebagai pembawa sifat, traits, pembawa mutan, atau karier Talasemia. Karier Talasemia tidak menunjukan gejala klinis semasa hidupnya. Hal ini bisa dipahami karena abnormalitas gen yang terjadi hanya melibatkan salah satu dari dua kromosom yang dikandungnya, bisa dari ayah atau dari ibu. Satu gen yang normal masih mampu memberikan kontribusi untuk proses sistem hematopoiesis yang cukup baik. Beberapa penelitian bahkan menyebut bahwa diantara pendonor darah rutin pada unit-unit transfuse darah adalah karier Talasemia.
Adapun Menurut Lantip Rujito pada tahun 2019, Klasifikikasi Talasemia secara genetik didasarkan pada kelainan subunit rantai globin yang terkena, yaitu:
1.       Talasemia-α
Sintesis rantai globin manusia disandi oleh 2 kelompok gen utama, yaitu kelompok gen globin a dan kelompok gen globin ß. Kedua gen penyandi ini masing-masing membentuk suatu gugus gen yang terletak pada kromosom yang berbeda. Rantai globin-a mengandung 141 asam animo, sedangkan rantai globin-ß tersusun atas 146 asam amino. Kelompok gen globin β terletak pada kromosom 16. Fungsi utama gen globin α diperankan oleh 2 gen globin α yang tedapat pada setiap kromosom 16 p.13.3. Dengan demikian, pada setiap individu terdapat 4 Gen α fungsional yang mensuplai kebutuhan rantai polipeptida globin α untuk membentuk hemoglobin.  Talasemia α terjadi akibat berkurangnya atau tiakadanya rantai globin α pada susunan hemoglobin. Status Talasemia α terbagi atas jumlah gen globin α yang mengalami abnormalitas. Abnormalitas utama pada gen α adalah tipe mutasi delesi (-), hanya sebagian kecil bertipe mutasi titik (point mutation). Tipe delesi disematkan pada jumlah basepair gen yang mengalami delesi. Nama delesi juga disematkan pada asal mutan dan frekuensi di suatu daerah.
2.      Talasemia-β
Kelompok gen globin ß terletak pada lengan pendek kromosom 11 (11p.15.5) dengan ukuran kurang lebih 90 Kb, mengandung beberapa gen fungsional, yaitu Epsilon (e) dua Gamma (Gγ dan Aγ), Delta (d) dan Β (ß). Satu pseudogen (ψB) juga terletak di antara gen Aγ dan d yang tidak terekspresi. Secara berurutan kelompok gen ß adalah : 5-e-Gγ-Aγ-ψß-d-ß3’ Di sebelah hulu gen globin-e sejauh 6-18 kb terdapat elemen regulator Locus Control Region (LCR) yang bersifat DNAseI hypersensitive sites (HS1-5). Elemen regulasi di daerah hilir (3’HS1) terletak dalam jarak 20kb dari gen ß. Ekspresi klaster gen ini diko ntrol oleh interaksi yang kompleks antara daerah promoter pada masing-masing gen dengan LCR dan downstream regulator.
Variabilitas klinis pasien Talasemia ß berkorelasi dengan jenis mutasi yang terdapat pada gena globin ß. Klasifikasi alel dibedakan menjadi dua kelas utama yaitu severe allele yang tidak memproduksi rantai globin, dan mild allele dengan produksi rantai globin yang menurun. Kedua alel tersebut dinotasikan sebagai ß0 dan ß+. Mutasimutas yang menyebabkan jenis ini sebagian besar adalah bertipe point mutation (mutasi titik). Jenis mutasi lainnya adalah delesi.  Saat ini lebih dari 300 jenis mutasi telah dikarakterisasi dengan baik. Dikenal 4 jenis mutan utama pada Talasemia ß yaitu: mutan promoter, mutan RNA splicing, mutan RNA capping/tailing, dan mutan translasi. 
3.      Talasemia-αβ
Hemoglobinopati/Talasemia yang paling sering dan bermanifest klinik adalah HbE/Talasemia dan HbS/Talasemia. HbE adalah kelainan struktur rantai globin ß hemoglobin dimana kodon pada posisi 26 berubah dari CAG menjadi AAG (Asam glutamat>Lisin). HbS, nama lainnya adalah Sickle Cells Disease (SCD), atau anemia sel sabit adalah jenis Hemoglobinopati yang lain. HbS terjadi karena perubahan asam amino pada kodon enam gen ß globin (Asam Glutamat > Valin). HbE dan HbS adalah dua jenis Hemoglobinopati yang endemik di Indonesia. HbE/Talasemia adalah kombinasi mutasi yang prominen secar epidemiologi di Indonesia, umumnya adalah HbE/Talasemia ß.  Sementara HbS/Thalassemia prevalensi kejadiannya relatif lebih sedikit. Secara klinis kelainan kombinasi merentang dari ringan sampai berat, dengan kecenderungan di tingkat intermedia dan berat. HbE/IVS1-5 adalah jenis yang banyak ditemukan dalam deteksi mutan di berbagai wilayah Indonesia.
E.  Patofisiologi Mutasi Gen Globin
Rantai globin merupakan suatu protein, maka sintesisnya dikendalikan oleh suatu gen. Dua kelompok gen yang mengatur yaitu kluster gen globin-a terletak pada kromosom 16 dan kluster gen globin-ß terletak pada kromosom 11.  Penyakit thalasemia diturunkan melalui gen yang disebut sebagai gen globin beta. Gen globin beta ini yang mengatur pembentukan salah satu komponen pembentuk hemoglobin. Gen globin beta hanya sebelah yang mengalami kelainan maka disebut pembawa sifat thalassemia-beta. Seorang pembawa sifat thalassemia tampak normal atau sehat, sebab masih mempunyai 1 belah gen dalam keadaan normal dan dapat berfungsi dengan baik dan jarang memerlukan pengobatan. Kelainan gen globin yang terjadi pada kedua kromosom, dinamakan penderita  thalassemia mayor yang berasal dari kedua orang tua yang masing-masing membawa sifat thalassemia. Proses pembuahan, anak hanya mendapat sebelah gen globin beta dari ibunya dan sebelah lagi dari ayahnya. Satu dari orang tua menderita thalasemia trait/bawaan maka kemungkinan 50% sehat dan 50% thalasemia trait. Kedua orang tua thalasemia trait maka kemungkinan 25% anak sehat, 25% anak thalasemia mayor dan 50% anak thalasemia trait (Ganie. R.A, 2008).
F.   Patofisiologi Thalasemia
Pada talasemia terjadi hampir 200 mutasi genetik yang berhubungan dengan  kelainan yang ditimbulkan. Semua mutasi yang terjadi berakibat pada tidak terjadinya sintesis rantai ß-globin yang disebut sebagai talasemia-ß rantai ß-globin yang disebut sebagai talasemia-ß+o atau pengurangan sintesis .Talasemia secara klinis bersifat heterogen, hal ini disebabkan karena terjadi berbagai kelainan genetik akibat mutasi, sehingga menyebabkan gangguan sintesis dari rantai globin. Pada talasemia terjadi hemolisis dan eritropoiesis yang tidak efektif. Hal ini terjadi secara bersama-sama sehingga mengakibatkan anemia pada talasemia. Anemia yang terjadi akibat hemolisis perifer disebabkan oleh rantai globin alfa yang tidak larut, sehingga memicu terjadinya kerusakan membran pada eritrosit (Rani dkk., 2013).
Anemia akan merangsang produksi eritropietin yang cukup intensif, akan tetapi akibat sumsum tulang yang tidak efektif akan menyebabkan terjadinya deformitas pada tulang. Anemia yang berat serta berkepanjangan dan meningkatnya eritropoiesis akan  mengakibatkan pembesaran pada hepar dan lien serta eritropoiesis ekstrameduler. Pada pasien talasemia, sumsum tulang mengandung 5 sampai 6 kali jumlah prekursor eritroid lebih banyak dibandingkan pada orang normal yang sehat, dengan jumlah  sel apoptosis 15 kali lebih banyak. Apoptosis yang terjadi lebih cepat merupakan penyebab utama terjadinya eritropoiesis yang tidak efektif, hal ini menyebabkan terdapat rantai alfa yang berlebih pada prekursor eritoid. Meskipun mekanisme apoptosis dari sel tersebut belum diketahui dengan jelas, akan tetapi diduga jalur tersebut dimediasi oleh interaksi dari Fas-Fas ligand. Apoptosis yang terjadi secara cepat dihubungkan dengan peningkatan paparan ekstraseluler dari phosphatidylserine yang merupakan signal penting untuk aktivasi dari makrofag, dimana hal tersebut meningkat pada pasien talasemia (Rani dkk., 2013).
G. Diagnosis Thalasemia
Talasemia mayor biasanya dicurigai pada bayi usia lebih muda dari 2 tahun  dengan anemia mikrositer berat, jaundice yang ringan, dan terdapat pembesaran hepar dan lien. Talasemia intermedia biasanya muncul pada umur setelah 2 tahun akan tetapi dengan gejala klinis yang lebih ringan. Pada karier talasemia biasanya tidak menunjukkan gejala klinis, akan tetapi terkadang muncul gejala anemia yang ringan. Pucat dapat ditemukan pada anak pada tahun pertama. Gejala lain yang dapat ditemukan yaitu anoreksia, pembesaran limpa dan hepar yang membesar, wajah mongoloid (dahi dan maksila yang menonjol), adanya gangguan pertumbuhan yang disebabkan berbagai faktor antara lain faktor hormonal akibat hemokromatosis pada kelenjar endokrin dan hipoksia jaringan akibat anemia. Warna kulit menjadi kehitaman. Perawakan biasanya pendek yang disebabkan kekurangan gizi kronis dan anemia (Galanello dan Origa, 2010). 
Pada pemeriksaan penunjang hapusan darah tepi akan didapatkan anemia berat tipe mikrositik hipokromik, anisositosis, poikilositosis, sel target. Jumlah retikulosit, lekosit, trombosit, bilirubin serum meningkat. Pada sumsum tulang terdapat hiperplasi normoblastik. Kadar besi dalam serum (SI) meninggi dan daya ikat serum terhadap besi (TIBC) menjadi rendah hingga mencapai nol. Gambaran radiologis tulang memperlihatkan medula yang lebar, korteks tipis dan trabekula kasar. Tulang tengkorak memperlihatkan diploe dan pada anak besar kadang terlihat brush appearance (Galanello dan Origa, 2010). 
Pada analisis Hemoglobin (Hb) secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan Hb elektroforesis dan high-performance liquid chromatography (HPLC) akan menunjukkan jumlah serta tipe dari Hb yang ada. Pola Hb pada pasien talasemia tergantung dari tipe talasemia beta yang muncul. Pada talasemia-ßo homozigot tidak terdapat HbA dan HbF memenuhi 92-95% dari total Hb. Pada talasemia-ß dan genetik ßo atau ß+ kadar HbA berkisar antara 10-30% dan HbF berkisar antara 70- 90%. Kadar HbA2 bervariasi pada talasemia beta homozigot dan kadarnya meningkat pada talasemia beta minor (Galanello dan Origa, 2010). 









BAB III
 PENUTUP
A.  Kesimpulan
Thalassemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan (inherited) dan masuk ke dalam kelompok hemoglobinopati, yakni kelaina yang disebbakan oleh gangguan system hemoglobin akibat mutasi di dalam atau dekat gen globin. Mutasi gen globin ini dapat menimbulkan dua perubahan rantai globin, yakni perubahan struktur rangkaian asam amino acid sequence rantai globin tertentu, disebut hemoglobinopati struktrual. Perubahan kecepatan sintesis atau kemampuan produksi rantai globin tertentu disebut Thalasemia.
B.  Saran
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.













DAFTAR PUSTAKA
Amin, Nurarif H dan Hardi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & Nanda Nic Noc Jilid. 2. Jakarta: EGC.

Campbell dkk. 2009. Biology. Jakarta: Erlangga

Galanello R dan Origa R. 2010. Epidemiology Beta-Thalasemia. Italia: Journal Of Rare Diasease.

Ganie, R.A. 2008. Thalasemia: pemasalahannya dan penanganannya.Medan:USU

Kurniati, Mala dan Indah A.Ayu. 2018. Hubungan Antar Kadar Ferritin Serum Dengan Fungsi Kognitif Berdasarkan Mini Mental State Examination (MMSE) Pada Penderita Talasemia Mayor Di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung Tahun 2017. Lampung: Jurnal IKDK.

Rani, Vasantha dan Samuel P. 2013. Dampak Intervensi Diet Dengan Suplemen Makanan Fungsional Untuk Memerangi Anemia- Gangguan Metabolisme Zat Besi Darah Di Kalangan Buruh Perkebunan Kopi. Jakarta: IMF.

RAY, Harahap. 2013. Penatalaksaan Pada Pasien Thalasemia. Lampung: Jurnal FKUL.

Rujito, Lantip. 2019. Genetik Dasar Pengelolaan Terkini. Jakarta: UNSOED Press.

Sawitri, Harvina dan Asmaul H. Cut. 2018. Karakteristik Pasien Thalassemia Mayor Di RSU Cut Meutia Aceh Utara Tahun 2018. Aceh: Jurnal Averrous.

Suryani, Esti dkk. 2015. Identifikasi Anemia Thalassemia Betha (Β) Mayor Berdasarkan Morfologi Sel Darah Merah. Semarang: Jurnal Unnes

Tursinawati, Yanuarita dan Fuad W. 2018. Pengetahuan Pengaruhi Sikap Dan Tindakan Mahasiswa Terhadap Program Pencegahan Thalassemia Di Indonesia. Semarang: Journal Unnes.

Wahidiyat, Iskandar. 2003. Thalasemia Dan Permasalahannya Di Indonesia. Jakarta: Sari Pediatri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar