Jumat, 01 Mei 2020

PEMERIKSAAN RETIKULOSIT


LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
PEMERIKSAAN RETIKULOSIT

IMG-20190326-WA0004

NAMA            : NURAIN DIAN YAPONO
NIM                : 18 3145 353 101
KELAS           : 2018 C



PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020





BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung hemoglobin terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit (sel darah putih) satuan pertahanan sistem imun, diangkut dalam darah tempat cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit penting dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang cedera. Jika darah mengalami gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh akan terganggu pula (Khairil dan Sutikno, 2016).
Retikulosit adalah sel darah merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblast di sumsum tulang. Retikulosit biasanya berada di darah selama 24 jam sebelum mengeluarkan sisa RNA dan menjadi sel darah merah. Hitung retikulosit pada pasien tanpa anemia berkisar antara 1-2%. Jumlah ini penting karena dapat digunakan sebagai indicator produktivitas dan aktivitas eritropoesis di sumsum tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi anemia sebagai hiperproliferatif, normoproliferatif atau hipoproliferatif (Sri, 2018).
Retikulosit merupakan parameter yang umum digunakan untuk menilai keberhasilan terapi besi pada anemia defisiensi besi, yang menunjukan respon fisiologis tubuh dengan meningkatkan produksi sel darah merah. Anemia defisiensi besi merupakan masalah yang yang paling lazim di dunia dan menjangkit lebih dari 600 juta remaja. Di Indonesia anemia defisiensi besi pada remaja putri merupakan salah satu masalah gizi yang harus ditangani secara serius. Anemia defisiensi besi di Indonesia menjadi masalah kesehatan dengan prevelensi lebih dari 15% (Zefika dan Lucia, 2019).
Oleh karena itu, berdasarkan uraian diatas mengenai pravelensi kasus Anemia defesiensi besi maka dilakukanlah praktikum pemeriksaan retikulosit dalam sampel darah pasien.
B. TUJUAN
Untuk mengukur dan menghitung jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu dengan menggunakan metode supravital staining.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup mulai dari binatang primitive sampai manusia. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen, (Oxygen Carrier), mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, dan mekanisme hemostatis (Made, 2017).
Darah adalah jaringan tubuh yang yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sitem tertutup yang dinmakan sebagai pembuluh darah dan menjalankan fungsi transport berbagai bahan serta fungsi homeostasis (Mohammad, 2014).
Darah merupakan bagian dari cairan ekstra sel yang berfungsi untuk mengambil oksigen (O2) dari paru-paru, bahan-bahan nutrisi dari saluran cerna dan mengangkut hormon dari kelenjar endokrin. Bahan-bahan tersebut diangkat ke seluruh sel dan jaringan dimana bahan-bahan tersebut akan berdifusi dan masuk kedalam sel dan selanjutnya akan di pergunakan untuk semua aktivitas sel, bahan-bahan yang dihasilkan dari proses metabolsime sel akan dikeluarkan dan diangkat oleh darah untuk diekresi. (Arlita, 2019).
Di dalam darah mengandung sel-sel darah serta cairan yang disebut plasma darah yang berisi berbagai zat nutrisi maupun subtansi lainnya. Sekitar 55% darah merupakan komponen cair  atau plasma, sisanya yang 45% adalah komponen sel-sel darah. Komponen darah manusia secara terinci terdiri atas sel-sel darah meliputi eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (keping darah) dan plasma darah yang merupakan komponen cairan yang mengandung berbagai nutrisi maupun subtansi penting lainnya yang diperlukan oleh tubuh manusia , antara lain protein albumin, globulin, faktor-faktor pembekuan darah, dan berbagai macam elektrolit natrium (Na+), Kalium (K+),  Klorida (Cl-), Magnesium (Mg2+), hormone dan sebagainnya (Novi, 2018).
Darah juga membawa hormon, antibodi, dan zat lainnya ke tempat yang dibutuhkan. Selain itu, darah membawa produk limbah yang dihasilkan oleh metabolisme sel ke paru-paru, kulit, hati, dan ginjal, dimana mereka ditransformasikan dan dihilangkan dari tubuh (Jitowiyono 2018).
Menurut Made pada tahun, 2017, darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu:
1.      Plasma darah :  Bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah.
2.      Butri- butir darah (Blood Corpucles), yang terdiri atas, eritrosit sel darh merah (SDM) –red blood cell (RBC) dan lekosit sel darah putih (SDP)- white blood cell (WBC) dan trombosit butir pembeku platelet.
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi, lingkungan dan status kesehatan. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit cacing (Zefika dan Lucia, 2019).
Kekurangan zat besi menimbulkan gangguan atau hambatan dalam pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Hingga saat ini pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan ditujukan khususnya pada ibu hamil sedangkan pada remaja putri jarang diperhatikan. Anemia dapat dicegah maka konsumsi makanan yang kaya zat besi perlu dilakukan dan juga diimbangi dengan pemberian tablet zat besi (Fe) (Zefika dan Lucia, 2019).
Anemia didefinisikan sebagai suatu penurunan nilai eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit dibawah nilai normal individu sehat pada umur, jenis kelamin, ras yang sama dan dalam kondisi lingkungan yang serupa. Penurunan kadar hemoglobin akan mengakibatkan tubuh mengalami hipoksia karena kemampuan kapasitas pengangkutan oksigen dari darah berkurang. Manifestasi gejala dan keluhan anemia tergantung beberapa faktor: 1) penurunan kapasitas daya angkut oksigen dari darah serta kecepatan penurunannya; 2) derajat dan kecepatan perubahan volume darah; 3) penyakit dasar penyebab anemia, dan 4) kapasitas kompensasi system kardiopulmonal (Setyati, 2016).
Retikulosit adalah Sel Darah Merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan  berasal dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan  organela basofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang dapat berupa endapan dan berwarna biru apabila dicat dengan pengecatan biru metilin. Retikulosit akan masuk ke sirkulasi darah tepi dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum
akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. Pada pasien tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara 1 – 2%. Jumlah ini penting karena dapat digunakan  sebagai indikator produktivitas dan aktivitas eritropoiesis di sumsum tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi anemia sebagai hiperproliferatif, normoproliferatif, atau hipoproliferatif. Penghitungan jumlah retikulosit ini bisa dilakukan dengan metode manual menggunakan pengecatan supravital dan bias dengan analisa otomatis flowsitometer (Ketut, 2010).
Tingkat maturitas retikulosit dapat menjadi indikator klinis aktivitas eritropoetik serta informasi tambahan yang berguna di samping nilai hitung retikulosit.Peningkatan retikulosit imatur umumnya terjadi pada regenerasi sumsum tulang pasca kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang dan pasca terapi anemia sehingga dapat digunakan untuk mengikuti hasil pengobatan anemia. Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan massa eritrosit dengan akibat oksigenasi jaringan tidak dapat terpenuhi (Sri, 2018).
Retikulosit ini sering dapat dibedakan pada apusan darah yang diwarnai Wright karena ukurannya yang besar dan warnanya keabu-abuan atauungu. Retikulosit biasanya berada di darah selama 24 jam sebelum mengeluarkan sisa RNA dan menjadi
sel darah merah. Apabila retikulosit dilepaskan secara dini dari sumsum tulang, retikulosit imatur dapat berada di sirkulasi selama 2-3 hari. Pada pasien tanpa anemia hitung retikulositnya berkisar antara 1-2%. Jumlah ini penting karena dapat digunakan sebagai indikator produktivitas dan aktivitas eritropoiesis di sumsum tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi. Retikulosit merupakan parameter yang umum digunakan untuk menilai keberhasilan terapi besi pada anemia defisiensi besi (Zefika dan Lucia, 2019).
            Hitung retikulosit digunakan untuk menilai ketepatan sumsum tulang terhadap anemia. Hitung retikulosit relative akurat untuk menunjukan jumlah produksi eritrosit dalam system eritropoetik dan membantu menentukan jenis anemia. Penghitungan jumlah retikulosit dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode manual menggunakan pengenceran supravital dan metode flowsitometer menggunakan hematology analyzer (Kenta, 2010).
Pemeriksaan retikulosit bermanfaat untuk menilai respon sumsum tulang terhadap anemia. Hitung retikulosit ditunjukan dengan angka perbandingan Antara jumlah retikulosit per eritrosit. Hitung retikulosit ini sangat dipengaruhi oleh berat ringannya anemia, oleh karena itu untuk menentukan kondisi retikulosit yang sesungguhnya perlu peritungan Indeks Retikulosit (IR) (Askandar dkk, 2015).
Indeks retikulosit lebih dari 2-3% menunjukan anemia respon yang adequate dan indeks retikulosit di bawah angka tersebut menunjukan anemia akibat kegagalan sumsum tulang. Hitung retikulosit normal Antara 0,8-2,5% pada pria dan 0,8-4,1% pada wanita. Hitung retikulosit yang meningkat menunjukan adanya kemungkinan hemolysis, perdarahan akut atau recovery setelah pemberian B12, asam folat atau besi. Hitung retikulosit rendah dijumpai pada anemia akibat kegagalan sumsum tulang (ASkandar dkk, 2015).
Hitung retikulosit dapat berupa presentasi dari sel darah merah, hitung retikulosit absolut, hitung retikulosit absolut, hitung retikulosit absolut terkoreksi atau reticulocyte production index. Hitung retikulosit harus dibandingkan dengan jumlah yang diproduksi pada penderita tanpa anemia (Ari, 2015).





BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.  PRA ANALITIK
1.      Persiapan pasien: Tidak memerlukan persiapan khusus
2.      Persiapan sampel:
-  Sampel darah EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 24 jam
-  Sampel dapat disimpan 24 jam di dalam kulkas dengan suhu 400C jika belum langsung diperiksa.
1)   Prinsip: Prinsip kerja yaitu darah dicampur dengan larutan, Brilliant Crecyl Blue, lalu dibuat sediaan. Dan jumlah retikulositnya dihitung dibawah mikroskop. Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam %
3.      Metode: supravital staining
4.      Alat dan Bahan
a.    Alat
1)   Tabung reaksi
2)   Objek glass
3)   Pipet tetes
4)   Rak tabung
5)   Stopwatch
6)   Mikroskop
b.    Bahan
1)   Sampel darah EDTA
2)   Larutan Brilliant Cresyl Blue (BCB)
3)   Deck glass
4)   Oil emersi
B.  ANALITIK
a.    Prosedur kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.    Dimasukan 3 tetes larutan Brilliant Cresyl Blue (BCB) ke dalam tabung reaksi
3.    Ditambahkan 3 tetes darah EDTA kemudian dihomogenkan
4.    Diinkubasi selama 15 menit
5.    Diambil 1 tetes campuran tadi kemudian di homogenkan
6.    Diinkubasi selama 15 menit
7.    Diambil 1 tetes campuran tadi kemudian diletakan di atas objeck glass
8.    Dibuat apusan darah
9.    Diperiksa sediaan dengan pembesaran objektif 100x
b.      Perhitungan
Jumlah Retikulosit= N/1000x 100%
C.  PASCA ANALITIK
Nilai normal: 0,5- 1,5%



BAB IV
PEMBAHASAN
A. 

Text Box:  HASIL      







B.  PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu pemeriksaan hitung retikulosit, dimana Retikulosit adalah sel darah merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblast di sumsum tulang. Retikulosit biasanya berada di darah selama 24 jam sebelum mengeluarkan sisa RNA dan menjadi sel darah merah. Adapun tujuan dari pemeriksaan retikulosit adalah untuk mengukur dan menghitung jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu dengan menggunakan metode supravital staining.
Prinsip dari pemeriksan retikulosit dengan metode supravital staining yaitu darah dicampur dengan larutan, Brilliant Crecyl Blue, lalu dibuat sediaan. Dan jumlah retikulositnya dihitung dibawah mikroskop. Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam %.
Adapun prosedur kerja dari pemeriksaan hitung retikulosit yaitu, pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dimana agar saat kita melakukan pemeriksaan kita tidak perlu bolak-balik mengambil alat atau bahan yang dibutuhkan serta untuk meminimalisir waktu pemeriksaan. Setelah itu dimasukkan 3 tetes larutan Brilliant Cresyl Blue (BCB) ke dalam tabung reaksi. Dimana fungsi dari larutan BCB ini yaitu sebagai larutan pengencer untuk menghitung jumlah retikulosit dan sebagai zat warna. Kemudian ditambahkan 3 tetes darah EDTA kemudian dihomogenkan. Diinkubasi selama 15 menit agar retikulosit dapat menyerap zat warna. Setelah itu diambil 1 tetes campuran tadi kemudian letakan di atas objek glass. Kemudian dibuat apusan darah dan periksa sediaan dengan pembesaran objektif 100x menggunakan oil emersi agar pengamatan terlihat jelas. Setelah itu ditentukan berapa banyak retikulosit didalam 1000 eritrosit menggunakan rumus perhitungan: Jumlah Retikulosit = N/1000 x 100%.
Hasil yang didapatkan yaitu ditemukan retikulosit pada sediaan. Adapun sumber kesalahan dalam melakukan pemeriksaan retikulosit:
1        .  Volume darah yang digunakan tidak sesuai dengan volume zat warna
2        .   Zat warna tidak disaring akan mengendap di eritrosit sehingga tampak seperti retikulosit
3        .   Waktu inkubasi campuran darah dan zat warna kurang lama
4      .   Tidak menghomogenkan campuran zat warna dengan darah sebelum membuat sediaan apus. Retikulosit         mempunyai berat jenis yang  lebih rendah dari eritrosit sehingga berada dibagian atas dari campuran.
5      .   Menghitung di daerah yang terlalu padat
6.    Jumlah eritrosit yang dihitung tidak mencapai 1000.
Adapun ciri-ciri sediaan yang tidak baik, yaitu tidak melebar sampai tepi kaca objek, panjangnya setengah sampai dua pertiga panjang kaca, mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa, pada bagian itu eritrosit terletak berdekatan tanpa bertumpukan, rata, tidak berlubang-lubang dan tidak bergaris-garis, mempunyai penyebaran lekosit yang baik, tidak berhimpun pada pinggir-pinggir atau ujung-ujung sediaan.




BAB V
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa didapatkan retikulosit dalam 1000 eritrosit menggunakan pembesaran 100x.
B.  SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya juga selalu menggunakan APD pada saat sedang berada di dalam laboratorium.





DAFTAR PUSTAKA
Barta, Made. 2017. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC

Dekayana, Arlita. 2019. Hitung Laju Endap Darah (LED). Surabaya: Uwais Inspirasi Indonesia.

Firani, Novi Khila. 2018. Mengenali Sel-Sel Darah dan Kelainan Darah.. Malang: Tim UB Press.

Fitriyadi, K dan Sutikno. 2016. Pengenalan Jenis Golongan Darah Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron. Semarang: Jurnal Masyarakat Informatika.

Ivana, Zefika Lutfi dan Gunawan, Lucia Sincu. 2019. “Perbedaan Jumlah Retikulosit Sebelum dan Sesudah Pemberian Tablet Tambah Darah”. Surakarta: Jurnal Biomedika.

Sadikin, Mohammad. 2014. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika.
Setyawati dkk. 2016. Hubungan Antara Indeks Produksi Retikulosit (IPR ) Dengan Red Blood Cell Distribution Width (RDW) Pada Klasifikasi Anemia Berdasarkan Defek Fungsional. Yogyakarta: Jurnal Kedokteran Yarsi.

Sri, Tumpuk Wahdaniah. 2018. Perbedaan Penggunaan Antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA Terhadap Hasil Pemeriksaan Indeks Eritrosit. Potianak: Jurnal Laboratorium Khatulistiwa.

Suega, Ketut. 2012. “Aplikasi Klinis Retikulosit”. Bandung: Jurnal Penyakit Dalam.

Sugeng, Jitowiyono. 2018. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan System Hematologi. Yogyakarta: Pusataka Baru Press.

Sutjahjo, Ari. 2015. “Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Dalam”. Surabaya: Airlangga University Press.

Tjokroprawiro Askandar, Setiawan Poernomo Boedi, Santoso Djoko, Soegiarto Gatot dan Rahmawati Lita Diah. 2015. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Surabaya: Airlangga University Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar