Jumat, 22 Mei 2020

PEMERIKSAAN G6PD


LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
PEMERIKSAAN DEFISIENSI GLUKOSA-6-FOSFAT DEHIDROGENASE (G6PD)

IMG-20190326-WA0004

NAMA            : NURAIN DIAN YAPONO
NIM                : 18 3145 353 101
KELAS           : 2018 C



PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020




BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Defisiensi Enzim Glukosa-6-fosfat dehydrogenase (G6PD) adalah gangguan metabolism yang paling banyak ditemuka pada manusia dengan jumlah penderita lebih dari 400 juta orang di seluruh dunia. Manifestasi klinis yang paling umum adalah anemia hemolitik akut dan penyait kuning yang umummnya distimulasi oleh senyawa-senyawa oksidatif dalam kacang-kacangan dan obat-obatan. Defesiensi enzim ini menyebabkan produksi NADPH sebagai tenaga pereduksi dan glutation tereduksi yang dihasilkan sel darah merah lebih rendah, sehingga sel bersifat lebih oksidatif dan rentan mengalami hemolysis pada saat terpapar stress oksidatif, radikal bebas, ataupun infeksi. Mudah lisisnya sel darah merah menyebabkan parasite malaria seperti Plasmodium falcifarum dan Plasmodium vivax, tidak dapat hidup cukup lama untuk menginfeksi sel darah merah lainnya, sehingga orang-orang yang mengalami defesiensi enzim G6PD sangat jarang terkena kasus malaria yang parah (Dimas, 2013).
Glukosa-6-fosfat dehydrogenase (G6PD) merupakan enzim pengkatalisis reaksi pertama jalur pentose fosfat dan memberikan efek reduksi pada semua sel dalam bentuk NADPH (bentuk teredduksi nicotinamide adenine dinucleotide phosphate). Senyawa NADPH memungkinkan sel-sel bertahan dari stress oksidatif yang dapat dipicu oleh beberapa bahan oksidan dan menyediakan glutathione dalam bentuk tereduksi. Eritrosit tidak memilik mitokondria sehingga jalur pentosa fosfat merupakan satu-satunya sumber NADPH, sehingga pertahanan terhadap kerusakan oksidatif tergantung pada G6PD (Liong, 2014).
Kejadian defisiensi G6PD banyak pada daerah tropis  dan subtropics. Diketahui pada umumnya insidens defisiensi G6PD dapat mencapai 25% pada beberapa populasi seperti di daerah Mediterania, Afrika, Asia Selatan, Eropa Selatan, dan Timur Tengah. Insidens defisiensi G6PD di Indonesia diperkirakan sebesar 1-14%, Menurut penelitian Soemantri dkk diketahui prevalensi insidens defisiensi G6PD di Jawa Tengah sebesar 15%. Sementara hasil penelitian Suhartati dkk insidens defisiensi enzim tersebut di pulau- pulau kecil di Indonesia (pulau Babar, Tanimbar, Kur, dan Romang di Propinsi Maluku) adalah 1,6-6,7% populasi (Anna, 2010).
Oleh karena itu, berdasarkan uraian diatas mengenai pravelensi kasus Glukosa-6-fosfat dehydrogenase (G6PD) maka dilakukanlah praktikum pemeriksaan G6PD dalam sampel darah pasien.
B. TUJUAN
         Untuk mengetahui kadar G6PD pada seseorang yang menunjukan keretanan terkena penyakit Anemia hemolitik




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah adalah kendaraan untuk transport masal jarak jauh dalam tubuh untuk berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal antara sel-sel itu sendiri. Darah terdiri dari cairan kompleks plasma tempat elemen selular diantaranya eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) pada hakikatnya adalah kantung hemoglobin terbungkus membran plasma yang mengangkut O2 dalam darah. Leukosit (sel darah putih) satuan pertahanan sistem imun, diangkut dalam darah tempat cedera atau tempat invasi mikro organisme penyebab penyakit. Trombosit penting dalam homeostasis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang cedera. Jika darah mengalami gangguan, maka segala proses metabolisme tubuh akan terganggu pula (Khairil dan Sutikno, 2016).
Enzim glukosa 6 fosfat dehydrogenase (G6PD) merupakan enzim yang diperlukan dalam proses oksidasi molekul glukosa melalui jalur pentosa fosfat (Hexoxe mono phosfat shunt / HMP shunt). Dalam proses tersebut akan dihasilkan molekul Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate tereduksi (NADPH) dan ribosa fosfat. Diketahui bahwa defisiensi enzim G6PD dapat mengakibatkan sel darah merah mudah pecah sehingga menyebabkan keadaan anemia hemolitik (Anna, 2010).
Defisiensi G6PD penting untuk menentukan apakah seseorang akan menderita penyakit ini. Gen G6PD terdapat pada lokus q28 kromososm X dan merupakan penyakit genetic bersifat resesif-terpaut kelamin yang lebih banyak diderita oleh pria dari pada wanita. Penyakit akibat defisiensi G6PD pada wanita akan mucul bila terdapat dua kopi gen yang defektif dalam genomnya. Selama terdapat satu kopi normal gen G6PD pada seorang wanita akan diproduksi enzim normal sehingga wanita ytersebut hanya seorang karier (pembawa sifat) dengan fenotipe normal. Pada pria hanya terdapat satu kromosom X sehingga satu gen yang defektif pasti menyebabkan defisiensi G6PD (Teresa, 2015).
Penyakit defisiensi G6PD adalah penyakit genetik, jadi tidak menular tetapi dapat diwariskan pada keturunannya (penyakit keturunan). Pewarisan sifat keturunan yang terdapat di dalam keluarga dengan defisiensi G6PD yang bersifat resesif terkait kromosom X terutama dari kromosom X (garis ibu) sebagai pembawa. Kromosom X dan Y bertanggung jawab dalam penentuan seks atau jenis kelamin. Inti sel somatik pada pria mempunyai satu kromosom X dan satu kromosom Y dengan tanda XY, sedangkan pada wanita mempunyai dua kromosom X dengan tanda XX. Dalam keadaan sakit ditulis Xo, sedangkan normal sebagai X atau Y. Pada penyakit defisiensi enzim ini yang menderita adalah X yang sifatnya resesif sehingga pria bila (XY) Hemizigot normal dan bila (XoY) Hemizigot penderita atau sakit. Pada wanita (XX) Homozigot normal dan (XoX) heterozigot karier atau pembawa sedangkan (XoXo) Homozigot penderita adalah sakit (Suhartati, 2010).
Enzim Glukosa 6 fosfat dehirdrogenase merupakan polipeptdia yang terdiri atas 515 asam amino dengan berat molekul 59 kDa. Gen pengkode enzim ersebut terdiri atas 13 ekson dan 12 nitron, terletak di lengan panjang kromosom X (Xq28). Enzim G6PD ditemukan dalam proses metabolism karbohidrat melalui jalur pentose fosfat. Aktivasi enzim tersebut sangat bergantung pada Nicotinamide Adenin Dinukleotida Phosphate (NADP), dependent NADP. Enzim Glukosa 6 fosfat dehydrogenase akan mengoksidasi/ dehidrogenasi molekul glukosa 6-fosfat menjadi 6-fosfoglukonat, bersamaan dengan proses tersebut akan dihasilkan NADPH. Peranan penting jalur pentose fosfat adalah menghasilkan NADPH dan molekul ribose fosfat (Anna, 2010).
Jalur pentose fosfat aktif terjadi di hati, jaringan adipose, orteks adrenal, tiroid, eritrosit, testis, dan kelenjar mamae yang sedang laktasi. Aktivitas jalur tersebut rendah pada kelenjar mamae yang tidak sedang laktasi dan pada otot rangka. NADPH mempunyai peranan penting dalam sintesis reduktif beberapa proses metabolism, di antaranya sintesis asam lemak, streroid, asam amino melalui glutamat dehydrogenase, dan glutation tereduksi (GSH). Sementara itu, ribose fosfat penting dalam proses pembentukan asam nukleat seperti DNA dan RNA (Anna, 2010).
Glutation adalah suatu peptide yang terdiri atas tiga molekul asam amino, yaitu asam amino glutamate, sistein, dan glisin. Di dalam sel darah merah, jalur pentose fosfat menghasilkan NADPH dengan peranan mereduksi glutation teroksidasi (GSSG) membentuk glutation tereduksi (GSH) yang dikatalisis oleh enzim glutaion reductase. Glutation tereduksi diperlukan untuk aktivitas enzim glutation peroksidase sutau enzim yang mengandung selenium. Enzim glutation peroksidase berperan untuk mereduksi H2O2 menjadi H2O sebagai bagian dari pertahan tubuh terhadap peroksidasi lipid. Aktivitas enzim glutation peroksidase sangat bergantung pada pasokan NADPH yang hanya dapat dibentuk melalui jalur pentose fosfat di eritrosit (Anna, 2010).
WHO membuat klasifikasi berdasarkan varian yang ditemukan di setiap Negara, subtitusi dan subtitusi asam amino yaitu:
Kelas I: Anemia hemolitik non sferositosis (aktifitas residual G6PD, <20). Merupakan jenis defesiensi enzim G6PD yang jarang ditemukan. Kelompok ini mempunyai kelainan fungsional yang berat (varian Harilaou). Sel darah merah tidak mampu mempertahankan diri dari oksidan endogen, sehingga terjadi hemolysis kronik. Adanya pemaparan dengan faktor pencetus akan menyebabkan terjadinya eksaserbasi anemia hemolitik akut.
Kelas II: Defisiensi berat (aktifitas residual, <10).
                 Kelompok defisiensi enzim G6P berat (Varian G6PD Mediteranian). Pemaparan dengan faktor pencetus (eksogen) akan menimbulkan hemolysis akut dan proses tersebut akan terus berlanjut selama masih terdapat pemaparan dengan faktor pencetus. Hai ini disebabkan rendahnya aktivitas enzim G6PD baik pada sel darah merah yang tua maupun muda.
Kelas III: DefIsiensi sedang (aktifitas residual G6PD. 10-60).
                 Kelompok defisiensi enzim G6PD ringan (varian G6PD A). Pada kelompok ini, hemolysis yang timbul akibat pemaparan dengan faktor pencetus akan berhenti dengan sendirinya walaupun pemaparan masih terus berlanjut. Hal ini disebabkan aktivitas enzim G6PD pada sel darah merah yang muda masih cukup tinggi untuk menahan oksidan, dan hanya sel darah merah yang tua saja yang mengalami hemolysis.
Kelas IV: Non defisiensi (aktifitas residual GPD, 100).
                 Kelompok yang tidak mengalami gejala-gejala defisiensi G6PD
Kelas V:   Non defisiensi (aktifitas residual G6PD, >100).
                 Peran enzim G6PD dalam mempertahankan keutuhan sel darah merah serta menghindarkan kejadian hemolitik, terletak pada fungsinya dalam jalur pentose fosfat. Di dalam sel
            Defisiensi enzim ini bukan penyakit yang serius, secara keseluruhan sehat dan normal. Namun bila penderita ini terpapar bahan oksidan dapat mengakibatkan gejala klinis dari yang ringan, misal kelelahan pada otot hingga yang berat antara lain timbulnya kern icterus dengan gangguan neurologi yang berat, bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh sebab itu harus menghindari bahan oksidan seumur hidup karena bisa memicu sel eritrosit untuk pecah secara berlebihan akibatnya bisa menimbulkan gejala penyakit. Selama ini pengamatan gejala klinik yang terjadi hanya tertuju  pada anemia hemolitik. Ternyata pada ahkir-akhir ini para ahli mengaitkan ada hubungan defisiensi G6PD dengan masalah kehamilan. Pada usia kehamilan trimester pertama di saat periode krisis organogenesis jaringan embrio melibatkan beberapa enzim di antaranya adalah enzim G6PD yang penting bagi pertahanan terhadap dampak buruk oksidan (Suhartati, 2010).
                             Menurut Avelina pada tahun 2019. Manifestasi klinis defisiensi G6PD yaitu Anemia hemolitik dan non hemolitik.
1.        Anemia hemolitik
Sebagian besar manifestasi jenis muatan gen G6PD yang mengakibatkan aktivitas enzimnya kurang dari 60% dari normal. Anemia hemolitik akut terjadi setelah paparan obat atau bahan kimia. Umumnya setelah satu sampai tiga hari terpapar bahan-bahan tersebut, penderita akan mengalami demam, letargi, kadang disertai gejala gastrointestinal. Hemoglobinuria merupakan tanda cardinal, terjadinya hemolysis intravaskuler ditandai dengan terjadinya urine berwarna merah gelap hingga coklat. Kemudian timbul icterus dan anemia yang disertai takikardia. Primakuin merupakan salah satu obat yang dapat memicu hemolysis. Pada umumnya obat tersebut berinteraksi dengan hemoglobin dan oksigen, yang mengakibatkan produksi oksidan dan radikal bebas meningkat. Ada beberapa obat yang cukup aman untuk diberikan pada muatan gen G6PD kelas II dan kelas III, Antara lain aspirin, vitamin C, acetaminopfen, sulfaxoxasole, dan vitamin K, asalkan diberikan dalam dosis terpai yang umum digunakan. Obat yang tidak aman untuk jenis muatan Gen G6PD kelas I, II, III misalnya primakin, asam nalidilat, nitrofurantoin, sulfamilamid.
2.    Anemia non hematologic
Beberapa kasus disiensi G6PD dilaporkan dapat memberikan manifestasi non hematologic. Dilaporkan bahwa defisiensi G6PD dapat mengakibatkan juvenile cataract pada lensa mata. Bahkan bilateral cataract ditemukan pada anak dengan defisensi G6PD. Defisiensi G6PD dapat menyebabkan kejang otot, kelelahan pada otot, dan infeksi kronis. Dilaporkan pula bahwa defisiensi aktivitas enzim G6PD pada lekosit dan netrofil dapat menyebabkan efek pada system imun yang menyebabkan infeksi kronis dan terbentuknya granuloma pada beberapa kasus.





BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. PRA ANALITIK
1. persiapan pasien: tidak memerlukan persiapan khusus
2. persiapan sampel: sampel darah EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam dan disimpan 24 jam di dalam kulkas dengan suhu 400C jika belum langsung diperiksa.
2. Prinsip: Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH. Defisiensi G6PD merupakan salah satu kelainan enzimatik herediter yang paling sering dari eritrosit manusia. Penelitian terbaru juga menyatakan bahwa aktivitas G6PD memainkan peran penting dalam mengontrol pertumbuhan sel melalui produksi NADPH.
2. Alat dan Bahan
A. Alat
1)      Tabung reaksi
2)      Rak Tabung
3)      Mikropipet
4)      Torniquet
5)      Stopwatch
B.  Bahan           
1)   Spoit
2)   Natrium Sitrat 3,8%
3)   Plasma/Control
4)   Label
5)   Sodium Nitrat glucose solution 0,1
6)   Alkohol swab 70%
7)   Tip
8)   Kertas Label
9)   Pot sampel
10)Methylene Blue 0.1 ml
B. ANALITIK              
1.    Diambil darah dan di masukan kedalam tabung EDTA
2.    Diberi label pada masing- masing tabung
3.    Diberi control masing-masing kontrol1,2,dan 3
4.    Dipipet reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung
5.    Diberi Methylene Blue 0,1ml kedalam masing-masing tabung
6.    Dihomogenkan reagen dan sampel
7.    Dihomogenkan 2ml tabung yang berisi control
8.    Dicampurkan sampel darah dan reagen
9.    Dihomogenkan kembalu menggunkan tangan
10.     Dipipipet 2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen
11.     Diinkubasi dengan suhu 37°C selama 90 menit
12.     selanjutnya di inkubasi kembali selama 90 menit
13.     Di Homogenkan kembali
14.     Ditambahkan 2,ml  with distilled water dan di inkubasi
15.     Dimasukan sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control
16.     Dihomogenkan kembali
17.     Ditambahkan 20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan
18.     Ditambahkan 20 mikron liters test lalu dihomogenkan
C.     PASCA ANALITIK
Interprestasi hasil :
a.    Contro Positif     : Merah Tua
b.    Control Negatif   : Merah Muda
c.    Test                      : Merah Muda





BAB IV
PEMBAHASAN
            Pada praktikum kali ini yaitu pemeriksaan Defesiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD) dimana, G6PD adalah merupakan enzim pengkatalisis reaksi pertama jalur pentose fosfat dan memberikan efek reduksi pada semua sel dalam bentuk NADPH (bentuk teredduksi nicotinamide adenine dinucleotide phosphate). Senyawa NADPH memungkinkan sel-sel bertahan dari stress oksidatif yang dapat dipicu oleh beberapa bahan oksidan dan menyediakan glutathione dalam bentuk tereduksi. Eritrosit tidak memilik mitokondria sehingga jalur pentosa fosfat merupakan satu-satunya sumber NADPH, sehingga pertahanan terhadap kerusakan oksidatif tergantung pada G6PD. Defisiensi G6PD merupakan enzimopati yang paling umum diderita manusia dan terkait dengan kromosom X.
            Adapun prinsip dari pemeriksaan ini yaitu Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH.
            Adapun prosedur kerja dari pemeriksaan G6PD yaitu yang prtsms-tsms disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Kemudian diambli darah vena dan dimasukan kedalam tabung EDTA diberi label pada masing-masing tabung. Kemudian diberi control pada masing-masing control 1,2, dan 3, setelah itu dipipet reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung kemudian diberi Methylen blue 0,1 ml kedalam masing-masin tabung dan dihomogenkan reagen dan sampel.
Kemudian dihomogenkan 2 ml tabung yang berisis control dan dicampurkan sampel darah dan reagen kemudian di homogenkan kembali. Setelahh itu dipipet 2 ml control negative dan di campurkan dengan reagen, setelah itu diinkubasi dengan suhu 370C selama 90 menit, selnajutnya diinkubasi kembali selama 90 menit dan dihomogenkan kembali. Kemudian ditambahkan 2 ml with distilled water dan di inkubasi, setelah itu dimasukan sampel sebanyak 20µl pada tabung negative control lalu dihomogenkan dan tambahkan 20µl test dan dihomogenkan. Dan baca hasilnya.  
            Adapun hasil yang didapat yaitu hasilnya negative pada test. Keselahan yang dapat terjadi pada pemeriksaan G6PD yaitu tidak menghomogenkan tabung dengan baik atau didak sempurna dan sampel yang digunakan lisis.







BAB V
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada sampel yang telah diuji didapakan hasil yang negative.
B.  SARAN
Diharapkan pada praktikum selanjutnya praktikan dapat memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan dengan baik dan lebih teliti serta mengefisienkan waktu dengan sebaik-baiknya juga selalu menggunakan APD pada saat sedang berada di dalam laboratorium.




DAFTAR PUSTAKA
Da Silva, Yolanda Avelina M. 2019. Gambaran defisiensi G6PD pada penderita malaria di wilayah kerja puskesmas elopada. Kupang: Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang.

Dewajanti, Anna M. 2010. Peranan Enzim Glukosa 66 Fosfat Dehidrogenase Dalam Mempertahankan Integritas Memrane Sel Darah Merah Terhadap Bebahan Oksidatif. Jakarta Barat: FKUK.

Fitriyadi, K dan Sutikno. 2016. Pengenalan Jenis Golongan Darah Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan Perceptron. Semarang: Jurnal Masyarakat Informatika.

Kurniawan, Liong Boy. 2014. Skrining, Doiagnosis dan Aspek Klinik Defisiensi Glukosa-6- Fosfat Dehidrogenase (G6PD). Makassar: Countinung Medical Education.

Noor, Ramadhani Dimas. 2013. Karakterisasi Molekuler Defisiensi Enzim Glukosa 6 Fosfat Dehydrogenase Homo Sapiens Di Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur Indonesia. Bogor: Agricultural University.

Suhartati. 2010. Mewaspadai Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehirogenase (G6PD) Dalam Upaya Mewujudkan Indonesia Sehat. Surabaya: ADLN Universitas Airlangga.

Wargasetia, Teresa L. 2015. Varian Molekul Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase.Bandung: Bilogi Fakultas Kedokteran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar